Rabu, 14 Mei 2014

SERPIHAN SESAL

Dear diary,

Aku menyesal telah bertahun-tahun membakar uangku yang aku tukar dengan kenikmatan semu. Kenikmatan semu yang mengikat diriku kuat dan erat. Kenikmatan yang akan membawa ku ke akhirat. Meski aku tahu yang namanya hidup, mati, rejeki dan jodoh itu di tangan Tuhan, tapi aku menyesali hidupku.

Kenapa penyesalan selalu hadir terakhir? Di saat aku sudah tak berdaya lagi? Di saat ragaku sudah tidak kuat untuk memperbaiki semuanya. Diary, aku tulis postingan ini sebagai pengingat bagi pembaca kisahku ini agar mereka berhenti merokok. Agar mereka tahu akibat dan bahaya merokok akan menjadi seperti aku seorang Zombigaret...


***

Dear diary,

Hari ini aku kaget sekali saat melihat diriku di cermin. Memang rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat bayangan diriku dalam cermin. Apalagi setelah serangkaian radioterapi dan kemoterapi yang aku jalani serta memburuknya kondisiku hingga harus di rawat di bangsal intensif ini. Untungnya ada seorang perawat yang baik hati meminjamkan cermin untukku.

Aku hampir tak mengenali sosok yang kulihat di cermin ini. Siapa dia? Akukah? Dimanakah ketampananku dulu? Kemana hilangnya senyum lesung pipi? Dimana gerangan rambut hitam lebatku dulu? Yang tertinggal kini sosok layaknya zombi. Zombi yang terjadi akibat sigaret, Zombigaret. 

Sumber disini
Mata yang berbinar dulu hilang digantikan mata cowong dengan bola mata hampir keluar. Wajah kurus yang tertinggal tinggal tulang dan kulit. Kepala botak dihiasi rambut yang tertinggal beberapa helai. Tubuh yang tegap dan berisi, kini hilang digantikan tubuh kurus kering yang sedikit membungkuk tidak kuat menyangga raga yang rapuh. Leher yang kokoh sekarang membengkak ditambah suara parau menambah betapa mengerikan diriku. Sesak nafas, nyeri dada dan batuk darah yang tak kunjung reda menambah sempurnanya aku sebagai mayat hidup yang menderita.

Aku menangis, menangisi kondisiku. Menyesal karena memilih menghabiskan 30 tahun lebih hidupku dengan rokok dibanding keluargaku. Mereka tidak sanggup dengan polusi asap yang kuberikan. Aku sendirian menghadapi semua ini. Aku menangis menyesal, tangis yang sama saat dokter memvonisku bahwa aku terkena kanker paru-paru.

***
Dear diary,

Mungkin ini postingan terakhirku sebelum aku berangkat ke akhirat. Aku harus mempertanggungjawabkan kehidupanku di sana. Aku tidak tahu harus menjawab apa nanti, namun yang jelas aku menyesal. 

Sebenarnya aku memaksakan diri menulis ini. Jari-jari tanganku rasanya sudah tidak kuat memencet tombol-tombol keyboard hapeku ini. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki aku bertekad menyelesaikannya. Menulis di blogku ini. Aku harus mengakhirinya dengan pesan. Aku berdoa semoga tulisan serpihan sesal ini bisa menjadi hal baik yang kukerjakan sebelum meninggal. 

Wahai para perokok berhentilah, sebelum penyesalan terlambat datang padamu. Jangan seperti aku, jadikan ceritaku ini sebagai pelajaran hidup kalian. Berhentilah dari kebiasaan merokok kalian. Jangan seperti aku yang tegar tengkuk, yang bebal terhadap nasehat orang-orang yang mengasihi aku. Berhentilah sekarang sebelum ajal menjemputmu. Sebelum penyakit yang ganas menggerogotimu, menyiksamu dalam penderitaan yang tiada tara.
Kreasi penulis diambil dari sini
Buat keluargaku, maafkan Zombigaret ini yang telah salah arah. Aku menyesal... Menyesal memilih hidup dengan sigaret dari pada dengan kalian. Aku tidak tahu kalian di mana, namun pesanku atau siapapun yang nanti menguburkanku. Tuliskan dalam nisanku setelah namaku, Zombigaret dalam serpihan sesal. Sebagai pengingat betapa menyesalnya diriku menjadi seorang Zombigaret. Juga sebagai pengingat siapa saja agar jangan seperti aku, menjadi Zombigaret. Segera menghentikan kebiasaan merokok mereka. Keluargaku... aku mengasihi kalian...

Dear diary, aku menyesal...


Zombigaret
dalam serpihan sesal

Jumlah kata : 532 kata

4 komentar:

  1. Sukses lomba blognya, ya. Saya juga ga tahan sama paparan asap rokok. Anehnya yang ga enak itu perokok pasifnya, bukan yang ngerokoknya T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin terima kasih mbak. Betul ini yang menrokok sih asyik saja, yang perokok pasif ini sampai terbatuk-batuk.
      Terima kasih sudah mampir.
      Salam

      Hapus
  2. pak dokter , sy anti org negrokok loh, krn paru-paruku dah kotor krn ulah perokok. Sekarang jd sring cepat lelah apalagi kalau naik tangga. Kt perokok sih , asap rokok gak seberapa dg asap kendaraan motor, kok tega ya ngomong seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul itu ma, perokok pasif sering menjadi korban. Yang lebih menyakitkan lagi si penyebab (perokok aktif) tidak merasa, bahkan menyalahkan perokok pasif. Yang kadang membuat saya heran itu tahu ruangan ber AC tetap masih merokok (ngelus dada)...

      Hapus