Kamis, 08 Mei 2014

(EKSPRESI CINTA MONUMENTAL) : APAKAH ITU CINTA ?



Apakah itu cinta?
apakah saat dadaku berdesir ketika melihatmu?
manakala darah dadaku
terlambat mengisi isi sekuncup jantungku?

Apakah itu cinta?
apakah saat kerling mata dan senyummu
membuat beku darahku
membuat neurotransmiter otakku
tak mengalirkan arus listrik
sehingga aku terpaku
kelu di hadapanmu?

Apakah itu cinta?
apakah saat kurasakan getaran aneh
tatkala tangan kita saling bertautan
meniti jalan terjal bersama?

Apakah itu cinta?
Dan tak kudapati dalam kamus Dorlandku



Jalan ini memang terjal sayang,
namun jangan takut
ada aku yang selalu menemanimu
yakinlah, bersama kita bisa lalui semuanya
(inilah cinta monumental kita)



Note :
Dorland adalah kamus Kedokteran




Terima kasih para juri telah memilih foto ini sebagai salah satu pemenang foto Cinta Monumental. Salam Cimoners. Pengumuman bisa dilihat di sini
Salam

TULARKAN VIRUS GEMAR DONOR DARAH

Sumber : dokumentasi pribadi dan pdf donor darah pmr


Aku mengenal PMI sejak kecil. Karena sering melihat acara cerdas cermat di TVRI dan ikut cerdas cermat sebagai wakil sekolahku, aku sangat tahu tentang PMI dan sejarahnya. Siapa yang menyangka bahwa pada akhirnya pekerjaanku nantinya sangat terkait erat dengan PMI. Itulah misteri kehidupan.

Masih teringat kuat dalam benakku, peristiwa itu. Peristiwa yang membawaku dalam kondisi sekarang, seorang yang menularkan virus untuk gemar melakukan donor darah. Saat itu aku masih co ass yang sedang stase ilmu kesehatan masyarakat di RS Kartini Jepara. Karena terjadi kecelakaan massal PMI Jepara kehabisan stok darah. 

“Gus, golongan darahmu apa?” tanya Aria sahabat baikku.
“A,”jawabku singkat sambil masih menjahit luka pada kaki pasienku.
“PMI kehabisan stok darah A, kamu mau jadi pendonor?”
“Ehm... mau sih tapi aku belum pernah donor darah Aria. Kalaupun jadi donor, hanya untuk nyamuk.Hehehehe...,”kelakarku. Aku lirik Aria ikut tersenyum. “Baiklah tapi aku selesaikan dulu pekerjaanku ini ya. Tapi memangnya aku memenuhi syarat jadi pendonor?” tanyaku kemudian
“Tenang Gus, ntar juga diseleksi dulu kok sama petugas PMI. Kamu mememuhi syarat atau tidak?”
Aku menyadari aku sangat kurus saat co-ass, dan salah satu syarat donor darah adalah berat badan minimal 50kg. Aku sendiri sudah lama tidak menimbang berat badan.

Setelah ditimbang ternyata berat badanku 52 kg dan memenuhi syarat. Tapi tunggu dulu ada beberapa syarat yang lain seperti temperatur 36,6 - 37,5 derajat celcius, tekanan darah baik (sistole: 110-160mmHg, diastole: 70-100mmHg), denyut nadi teratur: 70-100x/menit, Hemoglobin untuk pria minimal 12,5gr/dl, tidak sedang menderita penyakit jantung, hati, paru-paru, ginjal, diabetes, kanker, penyakit kulit kronis, tidak menederita penyakit infeksi (malaria, hepatitis, HIV/AIDS). Selain itu tidak menerima transfusi darah 6 bulan terakhir, bukan pecandu alkohol/narkoba. Karena aku belum pernah donor, tidak ditanyakan kapan terakhir donor. Syukurlah semua syarat terpenuhi. Jadilah aku donor darah untuk pertama kalinya. Tidak ada rasa takut dalam hatiku, rasa ikhlaslah yang memenuhi relung jiwaku. Peristiwa inilah yang menjadi awal aku menjadi pendonor darah yang rutin. Bahkan menjadi agen penular virus untuk gemar donor darah. Virus yang baik yaitu untuk gemar donor darah.

Kartu donor darahku pun banyak mulai dari Jepara, Semarang, Batu (tempatku bekerja), Malang dan Surabaya (tempat pendidikan spesialisku). Setiap kota yang kutinggali aku meninggalkan jejak. Menyebarkan virus gemar donor darah. Tidaklah mudah memotivasi orang-orang untuk menjadi pendonor. Ketakutan dan kepercayaan akan mitos masih menjadi penyebabnya. Ketakutan akan jarum suntik, melihat darah, tertular penyakit dan mitos yang tidak benar seperti darah habis dan lain-lain.

Padahal sebenarnya banyak manfaat yang kita peroleh seperti mengetahui golongan darah gratis, cek kesehatan gratis (termasuk Hb, hepatitis A,C dan HIV). Menurut British Journal Heart, donor darah yang rutin menurunkan resiko terkena penyakit jantung terutama untuk pria. Selain itu donor darah, membantu tubuh mengurangi sel darah merah dalam darah sehingga terstimulasi pembuatan darah baru dan ternyata donor darah membantu menurunkan berat badan.

Awal tahun ini satu lagi jejak kutinggalkan, istriku akhirnya juga terkena virus gemar melakukan donor darah. Aku akan terus menularkan virus gemar donor darah dan menularkan rasa ikhlas menolong orang lain.


Kisah ini  aku persembahkan
untuk para pejuang kemanusiaan, pendonor darah,
Salam satu jiwa.
Rencananya diikutkan cerita PMIku, tapi terlambat.

Selasa, 06 Mei 2014

SIEMEN c25 HP PERTAMAKU

Iseng-iseng buka FB ternyata ada GA baru cerita tentang HP pertama. Jadi mengenang nih sama HP pertamaku dulu. Merk HP pertamaku dulu Siemen c25.

Sumber : disini ya


Aku sendiri tidak tahu keberadaannya sekarang. Rasanya sudah dijual sama adikku. Berbicara tentang Siemen c25 satu yang aku ingat HP ini bandel dan kuat. Baik hardware nya maupun baterainya. Entah sudah berapa kali HP ini terjatuh tapi tetap saja masih berfungsi dengan baik.

Masih kuingat dengan baik dalam benakku, Siemen c25 ini aku beli dengan hasil keringatku sendiri. Gaji dokter pra PTT bulan ke-2 ku di tahun 2002. Maklum sejak dulu aku memang bertekat jika mau beli HP harus dengan keringatku sendiri. Lagian saat kuliah masih sedikit produk HP yang masuk ke Indonesia, kalau toh ada ya segede gaban. Yang bisa dipakai untuk ganjal mobil ataupun untuk mengusir kucing. 

Spesifikasi dari HP Siemen c25 ini adalah berat 135 gram, ukuran 117x47x27 mm. Ukuran panjang ini tanpa mengukur antena. Layar 3x12 karakter dengan layar LCD monokrom. Jadul ya. O iya tenaga baterai untuk HP ini adalah 300 menit waktu bicara atau lebih 160 jam jika dalam kondisi stand by. HP ini merupakan dual band mobile phone, dengan dukungan frekuensi jaringan GSM 900 dan 1800. Didukung juga dengan 21 monophonic ringtones. Juga ada fasilitas mengirim dan menerima sms. Siemen c25 ini adalah produksi Siemen tahun 1999. Kubeli dengan harga saat itu (tahun 2002) sekitar 750 ribu rupiah.

Saat itu sudah punya HP tapi belum punya kartu. Kartu perdana saat itu sangat mahal sekali. Karena kebaikan kakakku yang kedua aku diberi tambahan uang untuk membeli kartu perdana. Karena saat itu aku membeli di Magelang maka nomer HP pertamaku berkode Magelang dan masih 11 digit. Nomor perdana tersebut adalah Mentari milik provider Indosat. Harganya 350 ribu rupiah, hampir setengah dari harga HP pertamaku. Jadilah aku punya HP plus kartu perdana untuk pertama kalinya. Karena terlalu mahal sampai sekarang kartu perdana mentari tersebut masih aku gunakan.

Kalau kartu perdana masih aku pertahankan namun tidak dengan HP pertamaku. Selang 2-3 tahun setelah aku membeli HP pertamaku, gempuran tekhnologi dari Nokia merajai pasar HP Indonesia. Akhirnya membawaku berganti ke merk Nokia. Namun raja ponsel Nokia ini akhirnya harus gulung tikar dan dibeli oleh perusahaan microsoft. Sebagai pengamat dan pengguna tekhnologi yang bernama ponsel ini, menurut saya kegagalan dan kesalahn Nokia adalah tidak mengambil dan berganti dengan tekhnologi yang namanya Android sehingga kalah bersaing. Bahkan ketika pasar mulai melirik HP dari China yang lebih murah dengan tekhnologi Android, membuat Nokia makin tenggelam. Tentang nasib HP Siemen c25 ku kini, seperti kusebut di atas, entah aku tidak tahu keberadaannya. Setelah berganti Nokia (HP ke-2 ku), Siemen c25 ku kuserahkan ibu di Sragen. Begitu pula akhirnya nasib HP Nokiaku. 

Itulah cerita HP pertamaku. Bagaimana cerita HP pertamamu?



KERINDUAN

Dokumen pribadi

Kerinduan itu
seperti tali panjang yang melilit tubuh
semakin kuat hasrat melepasnya 
semakin erat mengikat jiwa
menyesakkan dada
jika sesekali rasa itu hinggap
rasanya ingin kuberlari mengejar bayangmu
seperti rusa berlari mencari air
meretas dahaga

Kerinduan itu 
seperti tali panjang yang melilit tubuh
yang akan terlepas
jika kau tak memiliki engram di kepalamu




Surabaya, 6 Mei 2014
Saat kerinduan itu hadir


Note :
engram  adalah memori yang tersimpan di otak manusia


Minggu, 04 Mei 2014

SEMBUH TOTAL DARI TB DENGAN KONSEP SEGITIGA EPIDEMIOLOGI

Semenjak Robert Koch menemukan kuman Mycobacterium Tuberculosis dan ditemukannya komposisi obat TBC oleh Sir John Crofton memberikan harapan baru pengobatan TB. Fakta membuktikan bahwa TB dapat disembuhkan

Gambar kuman Mycobecterium Tuberculosis (sumber : kepustakaan no.1)

Namun kenyataan yang ada beban TB di Indonesia masih sangat tinggi. Fakta menyebutkan bahwa setiap tahun masih ada 46.000  kasus baru. Setiap tahun ada 67.000 orang meninggal akibat TB atau sekitar 186 orang perhari. TB masih menjadi pembunuh nomer satu di antara penyakit menular dan peringkat 3 dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia. Kenyataan yang ada di Indonesia ini menimbulkan tanda tanya yang cukup besar. Karena fakta yang lain menyatakan bahwa TB bisa disembuhkan.

Mengapa? Apa yang salah?

Mengapa TB di Indonesia masih sangat tinggi? Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita mengingat kembali teori epidemiologi tentang konsep terjadinya penyakit yang diperkenalkan oleh John Gordon dan La Richt (1950). Konsep ini juga dikenal sebagai Segitiga Epidemiologi (epidemiologic triangle). Segitiga ini terdiri atas pejamu (host), agen (agent), dan lingkungan (environment). Ketidakseimbangan ke-3 unsur tersebut menyebabkan terjadinya penyakit.


Sumber : Dokumen pribadi
Mari kita pelajari satu-persatu.

Agen (agent)

Agen yang dimaksud di sini adalah penyebab utama terjadinya penyakit. Tentu saja kuman penyebab terjadinya penyakit TB adalah Mycobacterium Tuberculosis.
  • Kuman TB yang dorman
Tahukah anda jika ada kuman TB yang bersifat dorman ? Maksudnya kuman TB masuk ke dalam tubuh kita, menetap di sana tanpa menimbulkan gejala penyakit TB. Jadi kuman TB tersebut dalam kondisi "tidur", tapi bisa aktif kapanpun jika daya tahan tubuh kita sedang lemah. Kuman TB ini terutama yang berada di intraseluler. Pada orang yang terinfeksi HIV, yang menderita penyakit Diabetes atau yang menerima terapi yang menurunkan daya tahan tubuh, mempercepatkan aktifnya kuman TB ini.
  • Infeksi Laten kuman TB
Infeksi laten TB ini menyerang orang yang lahir dan berada pada daerah yang endemis TB. Selain itu juga orang yang mempunyai risiko kekambuhan TB yang tinggi (pasien HIV, diabetes dan terapi yang menurunkan daya tahan tubuh). 
Pada orang-orang tersebut biasanya tidak ada gejala TB atau gejala ringan TB namun dengan pemeriksaan sputum dan foto Rontgen dada hasilnya negatif. Infeksi laten TB ini dapat didiagnosis dengan Tes Kulit Tuberkulin atau dengan interferon-gamma release assay. Infeksi TB plus HIV meningkatkan angka kematian penderita.
  • TB yang aktif 
TB yang aktif dapat disembuhkan. Diperlukan kepatuhan penderita dalam minum obat TB sehingga kuman TB dapat tuntas diberantas. Selain obat TB kondisi yang memungkinkan kuman TB berkembang juga dihindari seperti daya tahan tubuh yang turun. Keteraturan dan tuntasnya pengobatan TB dilakukan untuk mencegah terjadinya resistensi kuman TB terhadap obat yang diberikan.
  •  Kuman yang resisten obat TB
Kegagalan pengobatan TB bisa mengakibatkan terjadinya resistensi terhadap obat TB. Resistensi terhadap obat TB ini akan berdampak terhadap pengobatan selanjutnya. Pengobatan akan lebih panjang, pengobatan dengan regimen obat yang berbeda yang tentu saja akan membutuhkan biaya yang lebih mahal.
  • Vaksinasi BCG bukan jaminan
Vaksinasi BCG adalah salah satu cara mencegah dan melindungi anak dari penyakit TB. Meskipun sudah divaksinasi BCG bukan jaminan bahwa anak tidak akan terkena TB. Tentu faktor daya tahan tubuh berpengaruh. Selain itu vaksin yang diberikan, cara penyimpanan vaksin yang benar dan cara vaksinasi akan mempengaruhi hasilnya. Banyak anak yang sudah divaksinasi BCG tidak menunjukkan scar, sehingga kemungkinan besar vaksin tersebut gagal.
Pejamu (host)

Pejamu dalam hal ini adalah manusia. Faktor pejamu ini merupakan faktor penunjang  (contributing cause) yang menimbulkan terjadinya penyakit. Faktor pejamu ini bisa juga sebagai faktor risiko terjadinya penyakit TB.
  • Daya tahan tubuh
Daya tahan tubuh sangat menentukan keberhasilan kuman TB untuk menimbulkan gejala penyakit. Daya tahan tubuh atau sistem imunitas dipengaruhi banyak faktor. Namun yang sangat berpengaruh adalah kebiasaan atau gaya hidup. Tuhan sudah memberikan imunitas dalam tubuh kita untuk melawan kuman atau virus. Namun jika kita tidak menjaganya atau pathogenitas kuman TB sangat kuat kita bisa saja terkena penyakit TB.
  • Kebiasaan atau gaya hidup
Kebiasaan atau gaya hidup yang tidak baik berpengaruh terjangkitnya seseorang terkena TB. Seperti makan-makanan yang kurang gizi, menjaga kesehatan, kurang olah raga, kurang istirahat, tidak terpapar sinar matahari dan merokok adalah gaya hidup yang berpengaruh terjangkitnya penyakit TB. Membuang dahak di sembarang tempat, tidak memakai masker dan mencuci tangan menyebabkan rantai penularan penyakit TB berkembang biak.
  • Tidak patuh minum obat
Ketidakpatuhan minum obat TB sampai tuntas, membuat penyakit TB tidak sembuh secara tuntas. Bahkan dapat menyebabkan kuman TB kebal terhadap obat TB. Kebiasaan memberhentikan obat sendiri (merasa sudah sehat setelah minum obat TB 1 bulan misalnya) adalah hal yang berbahaya bagi dirinya sendiri.
  • Psikis
Faktor psikis juga mendukung penularan TB. Stigma negatif terhadap penderita TB menyebabkan penderita menyembunyikan penyakitnya. Hal ini berakibat terhadap penularan penyakit TB. Penanganan pun akan menjadi lebih sulit karena untuk menemukan penderita saja tidak bisa.
Lingkungan (environment)

Lingkungan hidup manusia pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu lingkungan internal dan eksternal. Lingkungan internal yaitu keadaan yang bersifat dinamis dan homeostasis dalam tubuh manusia sendiri. Sedangkan lingkungan eksternal yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit TB adalah :
  • Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik ini bisa berupa kondisi rumah. Rumah yang lembab, pengap dan kurang cahaya matahari adalah tempat kuman TB berkembang biak dengan cepat. 
  • Lingkungan sosial
Lingkungan sosial ini meliputi stigma masyarakat. Mengucilkan penderita TB dan tidak mengajaknya berobat dapat berpengaruh terhadap penyebaran TB. Ketidakpedulian masyarakat meskipun mengetahui adanya penderita TB juga memegang peranan penting memberatnya dan menularnya penyakit TB.
  • Kepedulian pemerintah
Kepedulian pemerintah terhadap penyakit TB memegang peran yang sangat penting. Ketersediaan obat yang gratis, alat-alat diagnosis dan asuransi kesehatan yang ditanggung pemerintah beberapa contoh peran pemerintah dalam pemeberantasan penyakit TB.
  • Pengawas minum obat
Kurangnya pengawas minum obat bisa menyebabkan penyakit TB tidak bisa disembuhkan dengan tuntas. Tidak semua penderita TB bisa patuh minum obat. Oleh karena itu diperlukan pengawas minum obat yang bisa merupakan anggota keluarga, tetangga, kader kesehatan ataupun sukarela.
  • Kelompok saling mendukung
Adanya kelompok saling mendukung sesama penderita TB dan didukung relawan atau kader akan mendukung pemberantasan penyakit TB di Indonesia. Melalui kelompok saling mendukung, sesama penderita TB saling memotivasi untuk sembuh. Apalagi adanay testimoni penderita TB yang sudah sembuh akan menambah keyakinan penderita TB yang belum sembuh untuk sembuh.
Melalui segitiga epidemiologi di atas kita bisa melihat mengapa TB masih sangat tinggi di Indonesia. Yang terpenting adalah kita harus jujur bagian mana yang kurang dan harus diperbaiki. Jadi untuk meyakinkan masyarakat bahwa TB bisa disembuhkan adalah dengan memperbaiki kekurangan faktor mana dari segitiga epidemiologi itu yang didapatkan. Secara singkat dapat dirangkum sebagai berikut :
  • Pengobatan TB tak terputus sampai tuntas
Seperti yang sudah dibahas di atas pengobatan TB yang terputus berakibat tidak baik. Bahkan menimbulkan resistensi obat TB. Memang agak membosankan minum obat tiap hari dalam jumlah banyak dalam 2 bulan. Namun adanya bentuk obat fixed dose combination (FDC) yaitu gabungan beberapa obat meningkatkan kepatuhan penderita TB. Jumlah obat yang lebih sedikit memungkinkan penderita TB lebih praktis dalam meminum obat. Apalagi obat TB yang gratis sangat menolong bagi penderita TB.
Sumber : Kepustakaan No. 2
  • Vaksinasi BCG
Sekalipun vaksinasi BCG tidak menjamin terbebas dari penyakit TB. Namun vaksinasi BCG sebaiknya dilakukan, meskipun tidak bebas TB namun jika terkena TB anak yang sudah mendapatkan vaksinasi BCG tidak akan menderita TB yang berat (meningitis TB atau TB milier). 
Pelaksanaan vaksinasi pun harus  dibenahi. Seperti dalam penyimpanan vaksin, cara penyuntikan, dosis yang diberikan. Pelatihan kepada petugas kesehatan perlu dilakukan untuk penyegaran akan ketrampilan.
  • Daya tahan tubuh dijaga
Daya tahan tubuh yang memegang peranan penting dalam penularan dan terinfeksinya seseorang dari penyakit TB. Hal ini bisa dilakukan dengan pola hidup yang sehat.
  • Pola Hidup yang sehat
Pola hidup yang sehat dijaga dengan olah raga yang teratur, istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi, stop merokok, serta menjaga kebersihan diri.
Tidak membuang dahak di sembarang tempat, cuci tangan jika terkena dahak dan memakai masker jika sedang menderita batuk adalah serangkaian pola hidup yang dapat diterapkan dalam memutus rantai penularan penyakit TB.
Terapi sinar matahari atau heliotherapy yang sudah dikenal ribuan tahun lalu dikombinasikan dengan obat TB serta vitamin akan mempercepat penyembuhan TB.
  • Menjaga lingkungan yang sehat
Menjaga lingkungan yang sehat bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan rumah, membuka jendela saat pagi, siang dan sore agar ventilasi terjaga serta tidak lembab. Sehingga tidak menjadi tempat yang baik bagi kuman TB berkembang biak. Lingkungan atau kamar yang cukup terkena sinar matahari pagi adalah yang terbaik dalam memutus rantai penularan TB.
  • Pengawas Minum Obat & Kelompok Saling Mendukung
Adanya pengawas minum obat akan menolong penderita dalam kepatuhan meminum obat TB. Pengawas minum obat juga sebagai motivator penderita dalam pengobatannya.
Kelompok saling mendukung juga akan memotivasi penderita dalam menuntaskan pengobatan TB. Dukungan sesama penderita dan mantan penderita akan meyakinkan penderita TB untuk patuh minum obat. 
Sumber : kepustakaan No. 2
  • Stigma negatif
Stigma negatif terhadap penderita TB oleh masyarakat harus dihilangkan. Sehingga penderita TB tidak malu berobat dan rantai penularan penyakit bisa dipotong. Dukungan masyarakat kepada penderita TB sehingga psikis penderita tidak jatuh akan mensukseskan pengobatan TB itu sendiri.
  • Dukungan pemerintah
Dukungan pemerintah baik berupa dana, fasilitas, tenaga, program serta sistem layanan kesehatan akan menunjang pemberantasan TB. Iklan-iklan tentang TB di televisi atau radio yang di danai pemerintah akan menyebarluaskan informasi tentang TB dan cara penyembuhannya.
Segitiga epidemiologi ini meskipun merupakan teori yang lama, namun masih sangat relevan untuk mengetahui konsep terjadinya penyakit TB sekaligus upaya pemberantasan TB. Yang terpenting adalah mau atau tidak kita melakukannya. Jika TB bisa disembuhkan maka tunggu apa lagi??

Jika ingin mengetahui informasi tentang TB lebih lanjut, silahkan akses informasinya di :

Web          : http://www.tbindonesia.or.id/
Facebook : Stop TB Indonesia
Twitter       : @StopTBIndonesia

Tulisan ini diikutkan dalam Blog CompetitionTemukan dan Sembuhkan Penderita TB, Serial 3 dengan tema TB Bisa Disembuhkan. 

Kepustakaan : 


  1. Transmission and Pathogenesis of Tuberculosis chapter 2. pdf
  2. Buku Saku Kader Program Penanggulangan TB.pdf
  3. Geberding J.L. 2003, Treatment of Tuberculosis, MMER. Vol 52. RR-11
  4. Zumla A., et al. 2013. Current concepts Tuberculosis Review Article. The New England Journal of Medicine. Vol 366. No. 8.
  5. Sir John Crofton. wikipedia
  6. Robert Koch. wikipedia
  7. Coussens A., et al. Vitamin D accelerates resolution of inflammatory responses during tuberculosis treatment. PNAS. Vol 109. No.38. 15449-15454
  8. Martineau A.R. et al. 2011. High dose vitamin D3 during intensive phase antimicrobial treatment of pulmonary tuberculosis : a double-blind randomized controlled trial. Pubmed. 

Kamis, 01 Mei 2014

My First Journey : Exploring the White Coat

Sumber awal : klik disini dan disini

GA nya mas eruverdia ini membuatku bernostalgia. Sambil menyeruput secangkir hangat kopi pikiranku melayang jauh, menembus batas ruang dan waktu. Sesekali bau harum kopi menyadarkan ku bahwa bahwa aku hidup di masa sekarang, sendirian di kamar kost ku bersama laptop yg setia menantiku memijat keyboardnya. 

Berawal dari "dokter kecil"

Masih teringat dalam benakku, dipanggil guru SDku ke kantornya. Bersama dengan satu temanku cewek diminta mewakili SDku dalam pelatihan dokter kecil. Inilah awal dari kisah petualanganku. Petualangan untuk mengeksplor jas putih, yang aku sendiri tidak menduga akan menjadi seragam kebanggaanku. 

Sumber : Disini

Selama 1 minggu kami dididik dan dilatih menjadi dokter kecil. Semua ilmu aku serap, karena aku sangat tertarik tentang ilmu kesehatan. Maka tidaklah mengherankan jika di akhir pelatihan dokter kecil aku terpilih sebagai salah satu dari 10 besar terbaik dengan nilai sempurna diantara ratusan peserta yang ikut. Setelah pelatihan dokter kecil ini aku sibuk dengan kegiatanku di sekolah. Sebagai dokter kecil aku menggerakkan dan membimbing teman dalam kebersihan pribadi, pengukuran tinggi dan berat badan, pengamatan kebersihan lingkungan sekolah, UKS, pertolongan pertama jika ada teman yang terluka. Juga membantu petugas kesehatan dalam distribusi vitamin dan obat-obatan.

Aku sangat menikmati kegiatan sebagai dokter kecil yang memakai jas putih. Namun sayang setelah lulus dari SD, cita-cita sebagai dokter hilang dalam benakku. Digantikan dengan cita-cita menjadi arsitektur. Jujur aku sangat suka menggambar, melukis dan membuat sketsa. Keinginan menjadi arsitektur itu terpelihara sampai SMA kelas 2. Peristiwa kematian nenekku saat kelas 2 SMA seakan-akan menyadarkanku akan arti kesehatan. Mengingatkanku akan white coat atau jas putih yang pernah kukenakan saat di SD. Dan cita-citaku pun berubah menjadi dokter.

Rupanya Tuhan memberi jalan yang berliku bagiku untuk mencapai cita-citaku mengeksplor jas putih. Sekalipun aku selalu ranking 1 saat SD, tidak pernah lepas 5 besar saat SMP dan SMA, bahkan sering ranking 2, tidaklah menjamin aku mudah masuk Fakultas Kedokteran. Aku harus mengikhlaskan melepas masuk STAN (sekalipun sudah di terima di Prog studi Pajak) aku memilih masuk Fakultas Pertanian demi tahun depan bisa ikut seleksi lagi masuk Fakultas Kedokteran. Maklum untuk masuk di FK universitas swasta orangtuaku tidak sanggup membiayai. 

Setelah mampir Fakultas Pertanian, akhirnya jalan terbuka bagiku masuk Fakultas Kedokteran. Aku bahagia. Jalan untuk mengeksplor jas putih terbuka. Ini perjalanan kehidupanku yang indah meski berat. 

My first journey : exploring the white coat. Kulalui dengan keihklasan dan ketabahan serta semangat. Aku ikhlas di saat aku sibuk bergelut dengan diktat-diktat kedokteranku, sementara melihat teman-teman SMAku sudah lulus dan bekerja. Aku ikhlas saat harus menjagai seorang ibu yang akan melahirkan putranya semalaman dan tidak tidur sementara teman-temanku SMA sudah terlelap dalam tidurnya karena seharian capek bekerja. Aku ikhlas (dan agak malu) tiap bulan masih meminta uang orangtua dan kakak-kakakku sementara teman-teman SMAku sudah bisa memberi uang kepada orangtuanya. Aku ikhlas keinginan untuk pacaran berkeluarga kutunda demi studi sementara teman-teman SMAku sudah berkeluarga dan memiliki anak. Aku ikhlas meski harus tidur 1-2 jam dalam sehari demi belajar dan tugas jaga.

Perjuangan dan perjalanan hidup memang perlu keikhlasan. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah cita-cita. Pernah kami ada di titik nadir, saat kelelahan dan kejenuhan melanda hati. Kami mempertanyakan kenapa memilih masuk fakultas kedokteran, kenapa bukan fakultas lain? 6 tahun bukan waktu singkat dalam meraih gelar dokter, padahal kalau fakultas lain 6 tahun sudah S2. Aku pribadi mengambil waktu pribadi saat itu. Dialog dengan jiwa, akhirnya kudapati jawabannya. Ini masalah pilihan hati. Pilihan hati didorong oleh suatu motivasi-motivasi akan kerinduan hati. Iya. Aku sudah memilih dan menetapkan hati untuk menjawab kerinduanku. Kerinduan untuk menjadi alat mengobati orang-orang yang sakit dan menderita. Meski aku tahu kesembuhan ada di tangan Tuhan, tapi aku ingin menjadi alat kesembuhan dari Tuhan. 

Saat aku lafalkan sumpah dokter, aku tahu aku sedang berjanji di hadapan Tuhan dan diriku sendiri. Mataku berkaca-kaca. Bukan karena aku sudah menyelesaikan studiku tapi aku haru karena dengan sumpah ini aku ikut ambil dalam pekerjaan Tuhan menjadi sarana kesembuhan bagi yang membutuhkan. Ini bukan akhir dari perjalananku tetapi justru awal dari semuanya.

Banyak suka dan duka dalam perjalananku mengeksplor jas putih. Kegembiraan sejati yang kurasakan jika pasien yang kutolong bisa sembuh dan tersenyum bahagia karena sudah tidak sakit lagi. Duka adalah di saat aku harus melihat kematian, meski dengan segala upaya dan keilmuan kedokteran sudah kukerahkan. Ikhlas, ketulusan hati dan kasih adalah yang menjadi dasarku mengeksplor jas putih.


Sumber : Dokumen Pribadi
Perjalanan masih panjang, masih terus berlanjut. My first journey dan my long life journey akan terus berlanjut. Tak ada kata menyerah. Apalagi saat Tuhan mengijinkanku meneruskan pendidikan spesialis ini. Doaku, Tuhan jagai aku tetap menjadi dokter yang baik, rendah hati, berjiwa sosial dan menjadi berkat bagi pasien-pasienku. Amien.






MELUKIS ANGIN


Bagaimana aku bisa melukis angin
jika merasakan hembusan nafasmu pun ku tak sanggup
memaki aku dalam hati
lewat jendela rumah yang terbuka
ohh
aku mendengar tangisannya dalam kelam malam
merintih dalam isak tangis hujan
membalut semesta dalam luka
pedih dalam derai dan dawai cinta
aku  merindukan lagi
mendengar tawa nakalmu
yang menjerit diantara ranting kering
membelai dedaunan basah 
luruh dalam asa yang tak berujung

Bagaimana aku bisa melukis angin
sedangkan mendengar flatus pun ku tak mampu



Malang, akhir April