Jumat, 16 Mei 2014

CEGAH & BERANTAS MDR TB





















Ayo cegah dan berantas MDR TB

Sumber gambar :

Dikembangkan dan diterjemahkan dari :

http://drtbnetwork.articulate-online.com
http://blog.results.org.uk


Ilustrasi di atas secara singkat menjelaskan tentang apa itu MDR TB, pengobatan dan pencegahannya. Mari kita behas lebih lanjut mengenai MDR TB ini.

Menurut data dari WHO Global Report 2013 Indonesia berada di urutan 8 dari 27 negara dengan beban MDR TB terbanyak di dunia. Ada sekitar 6900 pasien dengan 5900 orang (1,9%) kasus baru dan 1000 orang (1250 dari kasus pengobatan ulang.

Sebenarnya kekebalan kuman TB terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) telah muncul sejak lama. MDR TB muncul seiring dengan dimulainya penggunaan Rifampisin secara luas semenjak tahun 1970-an.

Penatalaksanaan MDR TB memerlukan ketersediaan beberapa komponen seperti sarana laboratorium yang tersertifikasi khususnya untuk uji resistensi OAT, obat-obat TB lini kedua yang lengkap dan sumber daya manusia yang terlatih serta sumber dana yang memadai.

DEFINISI RESISTENSI OBAT

Konfirmasi resistensi obat TB dilakukan melalui uji laboratorium untuk menunjukkan isolat Mycobacterium Tuberculosis yang menginfeksi tubuh secara laboratorium sensitif atau telah resisten terhadap satu atau lebih obat-obat TB. Ada beberapa kategori resistensi terhadap obat TB yaitu :
  • Mono resistance adalah kekebalan terhadap salah satu OAT lini pertama
  • Poly resistance adalah kekebalan terhadap lebih dari satu OAT lini pertama, tetapi tidak resisten terhadap INH dan Rifampisin secara bersama-sama
  • Multidrug resistance (MDR) adalah kekebalan terhadap sekurang-kurangnya INH dan Rifampisin. Secara singkat MDR TB adalah resistensi terhadap INH dan Rifampisin secara bersama dengan atau tanpa OAT lini pertama yang lain
  • Extensive drug resistance (XDR) adalah selain MDR TB juga terjadi kekebalan terhadap salah satu obat golongan Fluorokuinolon sebagai OAT lini kedua dan sedikitnya salah satu OAT injeksi lini kedua (Kapreomisin, Kanamisin, dan Amikasin)
  • Totally drug resistance (TDR)  adalah kuman yang sudah resisten dengan seluruh OAT lini pertama (INH,Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid) dan OAT lini kedua (Amikasin, Kanamisin, Kapreomisin, Fluorokuinolon, Tionamid, PAS). TDR ini dikenal juga dengan istilah Super XDR TB
KONSEP DASAR

Ada 3 konsep dasar dalam kaitan perkembangan resistensi obat. Tiga konsep dasar tersebut adalah :
  • Resistensi Primer adalah resistensi yang terjadi pada penderita yang belum pernah mendapat pengobatan OAT atau sudah pernah mendapat pengobatan tetapi kurang dari 1 bulan. Pada resistensi ini terjadi oleh karena individu terpajan dengan kuman yang telah resisten terhadap obat TB atau disebut resistance among new cases.
  • Resistensi sekunder adalah resistensi yang terjadi pada penderita yang sebelumnya pernah mendapat terapi OAT (tercatat) minimal selama 1 bulan, dimana pengobatan yang tidak adekuat akan menimbulkan seleksi terhadap kuman yang resistensi terhadap obat yang diberikan dan disebut resistance among previously treated cases.
  • Resistensi natural adalah resistensi yang ditemukan pada strain liar yang timbul sebagai hasil multiplikasi berkelanjutan kuman-kuman tersebut, namun jumlah populasi ini tidak signifikan.
PENYEBAB RESISTENSI OBAT TB

Ada 3 faktor penyebab resistensi obat TB yaitu faktor kuman, faktor klinis dan faktor program. Resistensi obat TB ini pada dasarnya adalah suatu fenomena yang terjadi oleh karena perbuatan manusia sendiri (man made phenomena). Pada perspektif kuman resistensi obat TB terjadi oleh karena adanya mutasi genetik yang menimbulkan obat tidak efektif melawan kuman yang mengalami mutasi. Perspektif klinis dan pengobatan, resistensi terjadi karena terapi yang tidak memadai/adekuat atau kurang baik.

Pada awalnya resistensi obat TB terjadi karena kesalahan manusia (human error) yaitu meliputi kesalahan dalam penatalaksanaan kasus, manajemen logistik, peresepan obat. Beberapa human error yang sering terjadi antara lain :
  • Pemakaian obat tunggal dalam pemgobatan TB
  • Pemberian obat yang tidak adekuat (tidak teratur, dosis kurang, waktu yang tidak tepat)
  • Penggunaan obat kombinasi yang pencampurannya dilakukan tidak dengan baik sehingga mengganggu bioavaibilitas obat
  • Penyediaan obat yang tidak teratur
  • Pengetahuan penderita yang minimal tentang penyakit TB akibat tidak ada/kurangnya KIE dari provider terhadap penderita tersebut
Jadi terdapat 3 faktor utama penyebab terjadinya pengobatan TB yang tidak adekuat yang pada akhirnya memudahkan terjadinya kasus resistensi obat TB yaitu :

Faktor Penyelenggara Kesehatan :
Regimen yang tidak adekuat
Faktor obat : 
Ketersediaan/Kualitas yang tidak adekuat
Faktor Penderita :
Konsumsi obat yang tidak adekuat
Pedoman yang tidak sesuai
Kualitas yang buruk
Kepatuhan yang buruk
Tidak adanya pedoman
Ketidaktersediaan beberapa obat
Kurangnya informasi
Pelatihan yang kurang
Penyimpanan yang buruk
Kurangnya biaya
Tidak adanya pengawasan pengobatan
Kesalahan dosis
Kekurangan transportasi
Sedikitnya pembiayaan program TB kontrol
Kesalahan kombinasi
Efeksamping obat, hambatan sosial, malabsorbsi

PENEMUAN & DIAGNOSIS MDR TB

Resistensi obat berhubungan dengan riwayat pengobatan sebelumnya. Kemungkinan terjadi resistensi pada penderita dengan riwayat pengobatan sebelumnya adalah sebesar 4x lipat, sedangkan untuk terjadinya MDR TB sebesar 10x lipat atau lebih dibandingkan dengan pasien yang belum pernah diobati. 

Diagnosis MDR TB ditegakkan dengan uji sensitivitas obat atau Drug Susceptibility Testing (DST), bukan sekedar berdasarkan gambaran foto dada dan adanya faktor risiko yang ada pada seseorang. Pemilihan pasien yang akan dilakukan DST di negara dengan sumber daya yang tersedia, maka semua pasien TB dilakukan DST. Sedangkan di negara dengan sumber daya yang terbatas, pemilihan pasien yang akan dilakukan DST untuk menegakkan diagnosis MDR TB didasarkan indikasi. Pasien suspek MDR TB akan dilakukan kultur dan DST.

Bedasarkan adopsi dari WHO 2008 guidelines, di Indonesia kelompok individu yang perlu dilakukan DST sebagai pasien suspek TB adalah kelompok yang berisiko tinggi yaitu :
  • Individu yang mengalami gagal terapi setelah retreatment dan kasus kronik, dimana kelompok ini memiliki angka tertinggi (80%) menempati kasus MDR TB
  • Individu yang gagal terapi dengan OAT kategori 2 (sputum tetap positif pada bulan ke-3)
  • Individu yang diterapi OAT tetapi sputum tetap positif pada bulan ke-3 setelah pemberian sisipan pada kategori 1
  • Individu yang kembali setelah drop out pada pengobatan kategori 1 atau kategori 2
  • Memiliki riwayat pengobatan TB yang tidak adekuat, bukan DOTS atau managemen yang buruk.
  • Tinggal di daerah yang kasus MDR TB tinggi
  • Kasus TB kambuh (kategori 1 atau kategori 2)
  • Individu yang memiliki keluhan TB dan kontak erat dengan penderita MDR TB, termasuk petugas kesehatan yang kontak erat dengan penderita MDR TB
  • Memiliki kondisi komorbid dengan MDR TB, malabsorbsi atau rapid transit diare
  • Individu dengan infeksi HIV
DASAR-DASAR PENGOBATAN MDR TB

Berdasarkan WHO guidelines obat untuk MDR TB ada 5 grup berdasarkan potensi dan efikasinya.
  • Grup pertama : semua obat lini pertama yang terbukti sensitif seyogyanya digunakan, karena paling efektif & dapat ditoleransi dengan baik. Obat ini sebaiknya digunakan dengan dosis maksimal. Biasanya menggunakan Pirazinamid dan Etambutol
  • Grup kedua : obat injeksi bersifat bakterisidal. Golongan obat ini merupakan komponen yang krusial dalam regimen pengobatan MDR TB. Semua pasien diberikan injeksi sampai jumlah kuman dibuktikan rendah yaitu melalui hasil kultur negatif. Penelitian di Peru, keadaan ini dicapai setelah minimal 6 bulan pengobatan. Kanamisin (Amikasin) jika alergi diganti Kapreomisin, Viomisin
  • Grup ketiga : Fluorokuinolon, merupakan obat bekterisidal tinggi. Semua pasien yang sensitif terhadap grup obat ini, harus mendapat kuinolon dalam regimennya (misalnya Levofloksasin, Moksifloksasin, Ofloksasin)
  • Grup keempat : merupakan obat bakteriostatik lini kedua. Golongan obat ini mempunyai toleransi tidak sebaik obat-obat oral lini pertama dan kuinolon. Contoh obatnya adalah PAS (Para Aminosalicylic Acid), Etionamid, Protionamid dan Sikloserin
  • Grup kelima : golongan obat ini belum jelas efikasinya. Secara laboratorium menunjukkan efikasinya, tetapi data melalui uji klinis pada pasien MDR TB masih minimal. Contoh obatnya adalah Amoksisilin+ Asam Klavulanat, Makrolide baru (Klaritromisin) dan Linezolid.
Pembuatan regimen pengobatan MDR TB didasarkan 3 pendekatan yang didasarkan atas riwayat obat TB yang pernah dikonsumsi penderita, data DRS di suatu area dan hasil DST dari penderita itu sendiri.

Di Indonesia karena sumber daya masih terbatas, pengobatan MDR TB menggunakan pengobatan dengan regimen standar. Adapun pentahapannya adalah sebagai berikut :

Tahap
Regimen
Tahap 1
gunakan obat dari lini pertama yang manapun yang masih menunjukkan efikasi
Tahap 2
tambahkan obat di atas dengan salah satu golongan obat injeksi berdasarkan hasil uji sensitivitas & riwayat pengobatan
Tahap 3
tambahkan obat-obat di atas dengan salah satu obat golongan fluorokuinolon
Tahap 4
tambahkan obat-obat tersebut di atas dengan salah satu atau lebih dari obat golongan 4 sampai sekurang-kurangnya sudah tersedia 4 obat yang mungkin efektif
Tahap 5
pertimbangkan menambahkan sekurang-kurangnya 2 obat dari golongan 5 (melalui proses konsultasi dengan pakar MDR TB) apabila dirasakan belum ada 4 obat yang efektif dari golongan 1 sampai 4

Selain itu ada beberapa butir dalam pengobatan MDR TB yang dianjurkan WHO sebagai prinsip dasar yaitu :
  • Regimen harus didasarkan atas riwayat obat yang pernah diminum penderita
  • Dalam pemilihan obat pertimbangkan prevalensi resistensi obat lini pertama dan obat lini kedua yang berada di area/negara tersebut
  • Regimen minimal terdiri dari 4 obat yang jelas diketahui efektifitasnya
  • Dosis obat diberikan berdasarkan berat badan
  • Obat diberikan sekurang-kurangnya 6 hari dalam seminggu, apabila mungkin etambutol, pirazinamid dan fluorokuinolon diberikan setiap hari oleh karena konsentrasi dalam serum yang tinggi memberikan efikasi
  • Lama pengobatan minimal 18 bulan setelah terjadi konversi
  • Apabila terdapat DST, maka harus digunakan sebagai pedoman terapi. DST tidak memprediksi efektivitas atau inefektivitas obat secara penuh
  • Pirazinamid dapat digunakan dalam keseluruhan pengobatan apabila dipertimbangkan efektif. Sebagian besar penderita MDR TB memiliki keradangan kronik di parunya, dimana secara teoritis menghasilkan suasana asam yang mana pirazinamid bekerja aktif
  • Deteksi awal adalah faktor penting untuk mencapai keberhasilan
Pengobatan pasien MDR TB terdiri dari 2 tahap yaitu tahap awal dan tahap lanjutan. Pengobatan MDR TB memerlukan waktu lebih lama daripada pengobatan pasien TB bukan MDR yaitu sekitar 18-24 bulan. 

Pada tahap awal penderita akan mendapatkan OAT lini kedua minimal 4 jenis OAT yang masih sensitif sebagaimana disebutkan di atas, dimana salah satunya adalah obat injeksi. Pada tahap lanjutan semua OAT lini kedua yang dipakai pada tahap awal dilanjutkan kecuali OAT injeksi.

Dua hal yang sangat penting yang harus diperhatikan adalah :
  • KIE (Konsultasi Informasi Edukasi) yang bersifat komprehensif terhadap penderita dan keluarganya menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan pengobatan yang akan diberikan.
  • Selama pengobatan harus dilakukan dengan pengawasan langsung atau directly observe therapy (DOT).
PEMANTAUAN SELAMA PENGOBATAN

Evaluasi awal merupakan penentu kondisi klinis pasien dan apakah diperlukan pengobatan ancillary (misalnya bronkodilator, suplemen nutrisi, steroid). Selain itu deteksi yang cepat dan tepat adanya komorbid seperti insufisiensi ginjal, HIV, diabetes & depresi sangat membantu dalam perencanaan program pengobatan pasien MDR TB

Mengingat obat-obat MDR TB yang toleransinya rendah atau banyak efek samping maka pemantauan selama pengobatan terutama menyangkut efek samping harus dilakukan sesering mungkin. Penatalaksanaan yang baik dan tepat merupakan hal penting yang menentukan kepatuhan pengobatan.

TERAPI PEMBEDAHAN

Pada kasus TB dengan adanya persisten kuman pada jaringan nekrotik luas pada paru, sedikitnya vaskularisasi & keterbatasan penetrasi obat akan menimbulkan terjadinya kegagalan terapi atau kekambuhan kasus TB. Kerusakan jaringan paru & kavitas paru yang luas kemungkinan juga sebagai tempat terjadinya kekambuhan kuman. Kondisi tersebut sangat memungkinkan terjadinya resistensi obat TB.

Indikasi terapi pembedahan pada kasus resistensi obat TB adalah kerusakan jaringan paru yang luas dan dengan kavitas luas atau kavitas yang persisten. Pada kasus dengan kegagalan terjadinya konversi sputum setelah terapi OAT selama 4 bulan pada fase intensif dipertimbangkan untuk dilakukan terapi pembedahan.

Jenis operasi pembedahan sangat tergantung dengan luas kerusakan jaringan paru dan fungsi paru sebelum pembedahan, sehingga pemilihan operasi bedah berupa segmentectomy atau lobectomy.

Pengobatan OAT harus diberikan selama 3-4 bulan sebelum tindakan bedah dilakukan pada kasus resistensi obat TB. Tujuannya adalah untuk menurunkan infeksi bakteri di sekitar jaringan paru. Setelah tindakan bedah dilakukan terapi OAT tetap diberikan selama 18-24 bulan.

PENCEGAHAN TERJADINYA RESISTENSI OBAT

WHo merekomendasikan strategi DOTS dalam penatalaksanaan kasus TB, selain relatif tidak mahal dan mudah, strategi ini dianggap dapat menurunkan risiko terjadinya kasus resistensi obat terhadap TB

Pencegahan yang terbaik adalah dengan :

  • Standarisasi pemberian regimen yang efektif
  • Penerapan strategi DOTS
  • Pemakaian OAT dalam bentuk Fixed Dose Combination (FDC), adalah yang sangat tepat untuk mencegah terjadinya resistensi OAT.
Pencegahan terjadinya resistensi OAT dapat dimulai sejak awal penanganan kasus baru TB antara lain :

  • Pengobatan secara pasti terhadap kasus BTA positif pada pertama kali
  • Penyembuhan secara komplit kasus kambuh
  • Penyediaan suatu pedoman terapi terhadap TB
  • Penjaminan ketersediaan OAT adalah hal yang krusial
  • Pengawasan terhadap pengobatan
  • Adanya OAT gratis
  • Komitmen penderita untuk meminum obat teratur
  • Komitmen klinisi untuk mengobati berdasarkan pedoman terapi sesuai evidence base dan tes kepekaan kuman
  • Komitmen pemerintah dengan aturan dan sarana prasarana.
  • Pelaporan dan pencatatan yang baik
Sekalipun pengobatan dan pencegahan MDR TB tidak mudah. Namun jika dilakukan bersama-sama semua pasti bisa. Ayo Cegah dan Berantas MDR TB.

Jika ingin mengetahui informasi tentang TB lebih lanjut, silahkan akses informasinya di :
Web          : http://www.tbindonesia.or.id/
Facebook : Stop TB Indonesia
Twitter       : @StopTBIndonesia

Tulisan ini diikutkan dalam Blog CompetitionTemukan dan Sembuhkan Penderita TB, Serial 4 dengan tema Resistensi Obat TB (MDR TB). 

Sumber :

Buku Ajar Penyakit Paru hal aman 27-35
Buku Saku Harrison Pulmonologi 2013 halaman 137-138

Artikel terkait :

Serial 1
Serial 2
Serial 3
Serial 5
Serial 6
Serial 7
Serial 8

Rabu, 14 Mei 2014

SERPIHAN SESAL

Dear diary,

Aku menyesal telah bertahun-tahun membakar uangku yang aku tukar dengan kenikmatan semu. Kenikmatan semu yang mengikat diriku kuat dan erat. Kenikmatan yang akan membawa ku ke akhirat. Meski aku tahu yang namanya hidup, mati, rejeki dan jodoh itu di tangan Tuhan, tapi aku menyesali hidupku.

Kenapa penyesalan selalu hadir terakhir? Di saat aku sudah tak berdaya lagi? Di saat ragaku sudah tidak kuat untuk memperbaiki semuanya. Diary, aku tulis postingan ini sebagai pengingat bagi pembaca kisahku ini agar mereka berhenti merokok. Agar mereka tahu akibat dan bahaya merokok akan menjadi seperti aku seorang Zombigaret...


***

Dear diary,

Hari ini aku kaget sekali saat melihat diriku di cermin. Memang rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat bayangan diriku dalam cermin. Apalagi setelah serangkaian radioterapi dan kemoterapi yang aku jalani serta memburuknya kondisiku hingga harus di rawat di bangsal intensif ini. Untungnya ada seorang perawat yang baik hati meminjamkan cermin untukku.

Aku hampir tak mengenali sosok yang kulihat di cermin ini. Siapa dia? Akukah? Dimanakah ketampananku dulu? Kemana hilangnya senyum lesung pipi? Dimana gerangan rambut hitam lebatku dulu? Yang tertinggal kini sosok layaknya zombi. Zombi yang terjadi akibat sigaret, Zombigaret. 

Sumber disini
Mata yang berbinar dulu hilang digantikan mata cowong dengan bola mata hampir keluar. Wajah kurus yang tertinggal tinggal tulang dan kulit. Kepala botak dihiasi rambut yang tertinggal beberapa helai. Tubuh yang tegap dan berisi, kini hilang digantikan tubuh kurus kering yang sedikit membungkuk tidak kuat menyangga raga yang rapuh. Leher yang kokoh sekarang membengkak ditambah suara parau menambah betapa mengerikan diriku. Sesak nafas, nyeri dada dan batuk darah yang tak kunjung reda menambah sempurnanya aku sebagai mayat hidup yang menderita.

Aku menangis, menangisi kondisiku. Menyesal karena memilih menghabiskan 30 tahun lebih hidupku dengan rokok dibanding keluargaku. Mereka tidak sanggup dengan polusi asap yang kuberikan. Aku sendirian menghadapi semua ini. Aku menangis menyesal, tangis yang sama saat dokter memvonisku bahwa aku terkena kanker paru-paru.

***
Dear diary,

Mungkin ini postingan terakhirku sebelum aku berangkat ke akhirat. Aku harus mempertanggungjawabkan kehidupanku di sana. Aku tidak tahu harus menjawab apa nanti, namun yang jelas aku menyesal. 

Sebenarnya aku memaksakan diri menulis ini. Jari-jari tanganku rasanya sudah tidak kuat memencet tombol-tombol keyboard hapeku ini. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki aku bertekad menyelesaikannya. Menulis di blogku ini. Aku harus mengakhirinya dengan pesan. Aku berdoa semoga tulisan serpihan sesal ini bisa menjadi hal baik yang kukerjakan sebelum meninggal. 

Wahai para perokok berhentilah, sebelum penyesalan terlambat datang padamu. Jangan seperti aku, jadikan ceritaku ini sebagai pelajaran hidup kalian. Berhentilah dari kebiasaan merokok kalian. Jangan seperti aku yang tegar tengkuk, yang bebal terhadap nasehat orang-orang yang mengasihi aku. Berhentilah sekarang sebelum ajal menjemputmu. Sebelum penyakit yang ganas menggerogotimu, menyiksamu dalam penderitaan yang tiada tara.
Kreasi penulis diambil dari sini
Buat keluargaku, maafkan Zombigaret ini yang telah salah arah. Aku menyesal... Menyesal memilih hidup dengan sigaret dari pada dengan kalian. Aku tidak tahu kalian di mana, namun pesanku atau siapapun yang nanti menguburkanku. Tuliskan dalam nisanku setelah namaku, Zombigaret dalam serpihan sesal. Sebagai pengingat betapa menyesalnya diriku menjadi seorang Zombigaret. Juga sebagai pengingat siapa saja agar jangan seperti aku, menjadi Zombigaret. Segera menghentikan kebiasaan merokok mereka. Keluargaku... aku mengasihi kalian...

Dear diary, aku menyesal...


Zombigaret
dalam serpihan sesal

Jumlah kata : 532 kata

Senin, 12 Mei 2014

MEMBINGKAI SEJARAH DALAM SEBUAH NOVEL

Sumber : Dok. pribadi

Judul buku : Sang Patriot : Sebuah Epos Kepahlawanan
Penulis : Irma Devita
Penyunting : Agus Hadiyono
Desain sampul : WinduUKMJem
Penerbit : Inti Dinamika Publishers
Tempat terbit : Jakarta
Tahun terbit : 2014
Cetakan : Pertama, Pebruari 2014
Ukuran : 13 x 20,5 x 1,8 cm
Jumlah halaman : xii + 268 (280h)
ISBN : 978-602-14969-0-9 
Harga : Rp 55.250,- (Toga Mas Surabaya 12 Mei 2014)
Kategori : Novel Sejarah


"Sesosok jasad terbujur kaku di meja yang sengaja diletakkan di pelataran musala. Terbaring dalam hening. Tampak agung walau tersungkur bergenang darah mengering dari luka menganga di wajah bola matanya raib tercerabut dari tempatnya... Tubuh berperawakan sedang namun berisi itu menjadi saksi bisu kekejaman tangan-tangan yang pernah mendera, penuh lubang peluru dan cabikan bayonet. Tulang kepala berambut ikalnya retak, terdera popor senapan. Satu... dua... tiga... jari-jari tangan sang jasad tak lagi lengkap, hilang sebagian...
Prolog yang mengerikan ini tercantum di sampul belakang novel Sang Patriot (sebagai blurb). Kengerian penggambaran jenasah sang patriot menjadi daya tarik pembaca untuk ingin tahu lebih jauh cerita sang tokoh. Rasa penasaran pembaca sebenarnya sudah terpancing sejak pertama kali melihat tampilan fisik novel ini. Betapa tidak? Desain sampul yang bagus dengan dominasi warna merah, tulisan judul warna emas dan sosok pejuang dengan pose membelakangi akan memikat siapapun yang melihatnya. 

Pemilihan warna merah karena melambangkan keberanian dan emas melambangkan kemenangan. Karena sesungguhnya keberanian untuk berjuang membela kebenaran dan cita-cita adalah kemenangan tersendiri bagi sang pejuang dan perang terbesar adalah melawan diri sendiri.

Rasa keingintahuan pembaca diperkuat lantaran sang penulis tidak menyebutkan siapa sebenarnya Sang patriot ini dalam desain sampulnya. Suatu teknik yang mengesankan untuk memancing rasa penasaran. 

Sumber disini
Novel Sang patriot ini terdiri dari 25 bab. Seperti saya sebutkan di atas dibuka dengan prolog yang mengerikan. Walaupun sebenarnya ada foto dokumentasi dari prolog tersebut namun disimpan oleh penulis dan diletakkan di bab 24. Hal ini dimaksudkan untuk memancing pembaca masuk labirin imajinasinya. Teknik menjaga imajinasi pembaca adalah penting agar pembaca bisa terperangkap dalam lingkaran imajinasinya sehingga akan tenggelam untuk terus membaca novel sampai tuntas.

Adalah Mochammad Sroedji yang menjadi tokoh sentral dalam novel ini. Namanya sendiri baru disebutkan pada halaman 6 bab ke-2. Jiwa nasionalisme Sroedji sudah terpupuk sejak kecil. Hal ini tampak saat ia bermain perang-perangan dengan teman-temannya di antara rumpun bambu.
"Dor! Dor! Kena...! Mati kamu Belanda...!" (halaman 5)
Semangat nasionalisme ini diperolehnya dari Kyai Dullah yang diam-diam juga tokoh perjuangan. Kyai Dullah menginginkan rakyat Indonesia merdeka. Melalui cerita dan kisah heroik, ia menanamkan rasa cinta tanah air kepada para santrinya. Termasuk Sroedji dan teman-temannya.

Sroedji adalah seorang anak yang cerdas dan berkemauan keras untuk sekolah. Ia adalah anak ke-2 dari pasangan Hasan dan Amni yang lahir di Bangkalan tanggal 1 Februari 1915. Kehidupanlah yang membawa Hasan, seorang pedagang keliling, bertemu dengan Amni dan pindah serta menetap di Kauman Gurah Kediri. 

Berkat bantuan Pakdenya dan kecerdasan yang dimiliki Sroedji sehingga lolos tes dan diterima di HIS. Kemauan keras Sroedji pula yang menghantarkannya sekolah lebih tinggi setamat dari HIS (1930) ke Ambactsleergang atau sekolah teknik di Malang, meskipun harus mengorbankan kesempatan naik haji.

Di kota Malang inilah Sroedji bertemu kekasih hatinya, Rukmini. Seorang wanita cerdas yang berhati keras namun hormat kepada orang tua. Ada kisah roman yang menghiasi novel sejarah ini. Pembaca akan dibuat tersipu-sipu saat membaca bab ke-4: Jatuh Cinta. Adegan saat Sroedji 'menonton' calon istri di pasar Malang. Saat pandangan keduanya berserobok untuk pertama kalinya. Apalagi saat mereka beradu pandang untuk ke-2 kalinya mata nakal Sroedji yang mengedip sebelah membuat Rukmini terjingkat oleh degupan lembut. Bahkan pertemuan singkat itu mampu menghiasi mimpi-mimpi dan lamunan Rukmini sampai di hari pernikahannya tanggal 28 September 1939. 

Pernikahan karena perjodohan yang semula ditentang Rukmini yang akhirnya diterima dengan berbagai syarat. Pandai berbahasa Belanda dan mengijinkan Rukmini tetap bersekolah demi mencapai cita-citanya menjadi Meester in de Rechten. Kegundahan hati Rukmini berakhir dengan bahagia karena ternyata suaminya adalah pria yang mengedipkan mata nakalnya di pasar Malang. Hati Rukmini sungguh dipenuhi selaksa kebahagiaan. Debar lembut menyeruak tanpa ampun dari relung hatinya.

Keromantisan Sroedji dan sikapnya yang manis serta suka memuji dengan kata-kata yang menyejukkan membuat kebahagiaan Rukmini semakin membuncah. Mereka tinggal di Jember dan Sroedji bekerja sebagai Mantri Malaria di Rumah Sakit Umum Kreongan. Namun kepindahan ke Jember ini membuat Rukmini mengubur mimpinya menjadi Meester in de Rechten, karena di Jember belum ada sekolah tinggi hukum.

Jiwa nasionalisme Sroedji terlihat saat melarang  Rukmini berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Bahkan mewanti-wanti agar anak-anak yang lahir kelak tidak diajari bahasa Belanda sebagai bahasa sehari-hari namun menggunakan bahasa Jawa (bukan juga bahasa Madura). Hal ini cukup kontradiksi. Namun Rukmini sadar sang suami adalah seorang nasionalis tulen. Yang memiliki cita-cita terhadap kemerdekaan negara yang bernama Indonesia.

Impian Sroedji tentang kemerdekaan Indonesia telah dipupuk jauh sebelum menikah. Ia mengikuti kepanduan Hizbul Wathan sebuah gerakan kepanduan nasionalis di bawah naungan Muhammadiyah yang dicetuskan K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta.

Adanya Osamu Seirei (Dekrit) Nomor 44 Tahun 1943 tentang pembentukan Pembela Tanah Air (PETA) membuka kesempatan bagi Sroedji untuk mengobarkan jiwa patriotnya. Setelah mengantongi ijin istrinya melalui diskusi mereka. Rukmini sangat mendukung cita-cita suaminya menjadi pembela tanah air. Dengan ikhlas dan doa atas nama Allah ia melepas suaminya. Keikhlasan dan pengorbanan seorang istri yang luar biasa.

Tekad yang kuat, jiwa patriot dan nasionalis yang dimiliki Sroedji, membuatnya tegar di tengah beratnya masa pelatihan di PETA. Tekanan fisik dan psikis di kawah candradimuka-nya PETA tidak membuatnya surut. Bahkan Sroedji menjadi motivator bagi teman-temannya sesama kadet. Jiwa kepemimpinan Sroedji sangat kentara di sini.
"Perang terbesar bukanlah melawan musuh, Mur. Perang paling besar adalah perang melawan diri kita sendiri. Kita harus punya satu tekad baja. Kita harus kalahkan dulu diri kita, baru bisa mengalahkan musuh."
"Kita harus menjadi perwira yang tangguh, Mur ... harus! Demi bangsa kita, Mur ... anak cucu kita. Mereka tidak boleh mengalami masa kegelapan seperti yang kita alami, Mur."
"Kita adalah prajurit Mur, ... kita tidak boleh kehilangan semangat juang. Seorang prajurit yang kehilangan semangat juang ibarat mayat yang sedang mengusung keranda kematiannya sendiri."
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, PETA secara resmi dibubarkan. Pada tanggal 19 Agustus 1945 Nagano Yuichiroo panglima terakhir tentara ke-16 Jepang membubarkan PETA. Bung Karno segera menyerukan pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat). Mochammad Sroedji berpangkat mayor dan masuk dalam Resimen II Jember.

Tanggal 5 Oktober 1945 BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Sroedji menjabat Komandan Batalion Sroedji Resimen IV/TKR Divisi VII Untung Suropati.

Patriotisme Sroedji terlihat jelas saat peristiwa Pertempuran Surabaya. Seruan tegas Sroedji atas nama TKR Jember untuk mendukung rakyat Surabaya mempertahankan kota. Tak ada keraguan tebersit. Hanya satu tekad, berjuang sampai titik darah penghabisan. Merdeka atau mati! Sroedji mengkomandani sektor sayap tengah untuk memperkuat pertahanan Surabaya Selatan.

Sroedji memimpin Brigade Damarwulan yang membawahi Karesiden Besuki yang meliputi daerah Jember, Lumajang, Blitar, Kediri sampai Banyuwangi. Agresi Militer Belanda I pada bulan Juli 1947 membuat Sroedji dan pasukannya harus bergerilya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Para pemimpin perjuangan telah bersepakat mengobarkan perang gerilya dan melakukan perlawanan tanpa henti. Perlawanan para gerilwayan tersebut terbukti membuat kewalahan Belanda. Keluarga Sroedji menjadi incaran Belanda untuk melemahkan perjuangan Sroedji dan pasukannya. Sroedji memerintahkan anak buahnya membawa keluarganya keluar dari Jember menuju Kediri. Padahal saat itu Rukmini sedang hamil tua anak ke-4. Karena Belanda menguasai kota maka mereka harus mengambil jalan memutar dan menempuh jarak 200 km.

Baru seminggu berkumpul dengan suami di Kediri, panggilan tugas membuat Sroedji harus meninggalkan keluarganya, meninggalkan istrinya yang sebentar lagi melahirkan. Perjanjian Renville yang mengharuskan Sroedji memimpin pasukannya mengosongkan wilayah garis Van Mook. Meninggalkan wilayah-wilayah gerilya yang strategis.

Kelicikan Belanda melanggar Perjanjian Renville dengan melancarkan Agresi Militer II. Hal ini memaksa Panglima Besar memerintahkan semua pasukan Indonesia kembali menyusup ke kantong gerilya dengan siasat Wingate Action. Sroedji harus memimpin pasukannya kembali ke Besuki untuk mempertahankan daerah yang sebelumnya ditinggalkan. Perjalanan berat dan melelahkan dilalui oleh serombongan besar yang terdiri prajurit, kaum wanita dan anak-anak. Berbagai peristiwa terjadi baik pengkhinatan, hempasan lahar dingin dan kelaparan. Mereka harus berputar menyusuri lereng gunung demi menghindari sergapan Belanda.

Demi memadamkan perlawanan Letkol Mochammad Sroedji dan Brigade Damarwulan, Belanda melancarkan politik devide et impera. Caranya dengan menyebarkan pamflet Sroedji sebagai buron atau target seharga 10.000 Gulden baik kondisi hidup atau mati.

Pertempuran demi pertempuran berlangsung sengit dan heroik dengan target utama Jember. Pertempuran paling hebat terjadi di Tempursari dan Penanggal Lumajang Selatan. 

Seorang pengkhianat yang berhasil menyusup dan menyamar masuk dalam Brigade Sroedji. Somad seorang Indo Belanda berkulit hitam layaknya pribumi berhasil memperdaya Brigade Sroedji. Kesetiaan mengabdi kepada Kerajaan Belanda dan sumpah yang lahir dari dendam kesumat terhadap pasukan Sroedji yang telah mengalahkan pasukannya adalah motivasinya. 

Kondisi fisik Sroedji yang sedang sakit demam, kelelahan pasukannya serta kalah jumlah karena pasukannya sudah berpencar diketahui oleh mata-mata penyusup Belanda (Somad). Sehingga Belanda mengepung dengan kekuatan besar.

Kematian syahid dr. Soebandi karibnya di sampingnya, sekilas mengingatkan kematian Karjo teman masa kecilnya. Bedanya kali ini ia membela dan membalaskan kematian sahabat karibnya meski nyawa taruhannya.
"Ya Allah, mungkin ini sudah waktuku... Biarlah darahku menjadi pupuk penyubur tanah tumpah darah ini..."
Letkol Mochammad Sroedji gugur dalam perang di Karang Kedawung 8 Februari 1949 sebagai syuhada.

Nasionalisme, Jiwa Patriot dan Pemimpin

Novel Sang patriot ini memberikan jawaban apakah pemimpin itu dilahirkan atau dibentuk. Penulis tidak secara jelas menceritakan apakah ada keturunan pemimpin di keluarga Sroedji sehingga kita tidak bisa menyimpulkan kepemimpinan Sroedji itu dilahirkan (secara genetik). Lebih mengarah bahwa seorang pemimpin itu dibentuk. 

Rasa kepemimpinan Sroedji yang tumbuh bersama jiwa nasionalisme dan patriotnya. Didikan keluarga Madura yang memegang teguh agama dan kisah-kisah heroik yang diceritakan Kyai Dullah di pesantren memberikan bibit yang nantinya tumbuh semakin besar. Kepanduan Hizbul Wathan juga memberikan andil memupuk jiwa nasionalis, patriot dan kepemimpinan Sroedji. Luka dalam hati akibat kematian karibnya semasa kecil oleh sinyo-sinyo Belanda menimbulkan semangat mengusir penjajah dari tanah airnya. Dukungan keluarga (istri dan anak-anak) yang luar biasa membuat Sroedji menjadi seorang patriot yang kuat. Rakyat yang menderita dan pasukan setianya semakin mengobarkan jiwa patriotismenya.

Sumber disini
Cinta

Sebenarnya kalau dirangkum dengan satu kata, novel Sang Patriot karya Irma Devita ini adalah CINTA.

Cinta kepada tanah air yang menggerakkan Sroedji berkorban untuk bangsa dan tanah airnya. 

Cinta kepada anak dan cucunya kelak untuk hidup dalam alam kemerdekaan yang memberikan suntikan semangat untuk memperjuangkan cita-citanya mempertahankan kemerdekaan.

Cinta kepada suami dan bangsanya Rukmini merelakan suami tercinta berjuang demi bangsanya, merelakan mengubur cita-citanya untuk menjadi Meester in de Rechten,  membesarkan anak-anaknya seorang diri, menderita dalam perjuangan.

Cinta kepada bangsanya membuat para pejuang kemerdekaan Indonesia memberikan harta, raga dan jiwanya menjadi pupuk kemerdekaan Indonesia.

Cinta dan janji kepada sang nenek, membuat Irma Devita melahirkan Novel Sejarah Sang Patriot yang apik dan heroik ini untuk kita.
dan masih banyak cinta yang lain...

Cinta, senyawa kimiawi yang abstrak dalam tubuh kita yang menggerakkan kita menjadi seorang Patriot dalam kehidupan kita.

Ide Cerita

Berdasarkan cover depan yang tertulis based on true story dan yang tertulis di sekapur sirih sangat jelas darimana ide cerita novel ini berasal. Kisah nyata sang kakek dan janji Irma Devita saat kecil kepada sang nenek adalah ide utama cerita novel Sang Patriot ini.
"Mbah... Irma janji, suatu saat kelak Irma akan menuliskan cerita tentang Mbah Kakung..."
Kelebihan

Membaca novel Sang Patriot ini kita akan dibawa kedalam cerita epik yang mengharu biru, membikin jantung kebat-kebit saat peristiwa-peristiwa genting. Meluruhkan dan melelehkan air mata kita saat hati kita tersentuh keharuan dan kesedihan. Kegeraman dan amarah dalam hati saat membaca kelicikan Belanda dan para pengkhianat. Tersenyum simpul dan malu-malu saat tokoh dalam novel ini jatuh cinta. 

Plot yang maju-mundur dibolak-balik berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca novel ini. Saat kita dicekam oleh cerita yang hampir klimaks tiba-tiba penulis menceritakan kisah lain. Hal ini yang sanggup membuat pembaca betah untuk meneruskan membaca novel ini karena rasa penasaran yang ada.

Irma Devita menyuguhkan gaya bahasa yang menyenangkan dan indah, sehingga betah berjam-jam membaca novel ini (tidak seperti saat saya membaca diktat kedokteran. Saya kemudian berpikir andaikan diktat kedokteran dibuat novel, bagaimana ya jadinya?). Rasa penasaran yang terus dibangun sejak awal dipertahankan sampai akhir. Penokohan yang kuat membuat pembaca terhanyut dan merasakan sifat-sifat tokoh yang ada.

Novel yang didasarkan akan kisah nyata sang kakek ini juga didukung melalui riset yang cukup panjang. Latar belakang pendidikan sebagai praktisi hukum menolong Irma Devita menyajikan fakta yang aktual dari sejarah yang ada. Catatan waktu, peristiwa, lokasi dan tokoh tersusun rapi berdasarkan fakta yang diperoleh saat riset.  

Hal Mengganjal

Berikut beberapa hal yang mengganjal dalam Novel Sang Patriot :

1. Judul
Judul novel ini adalah Sang Patriot : Sebuah Epos Kepahlawanan. Yang saya sorotin adalah sub judulnya : Sebuah Epos Kepahlawanan. Yang cukup membuat saya cukup terganggu adalah kata epos kepahlawanan.
Kalau menurut KBBI online epos adalah cerita kepahlawanan; syair panjang yang menceritakan riwayat perjuangan seorang pahlawan; wiracarita. Jadi kalau dipanjangkan menjadi sebuah cerita kepahlawan kepahlawanan. Sehingga judulnya akan lebih pas jika Sang Patriot : Sebuah Epos.
Namun saya berpikir, mungkinkah Irma Devita menggunakan gaya bahasa Pleonasme? Gaya bahasa pleonasme adalah gaya bahasa yang memakai kata-kata yang lebih dari yang diperlukan, dan jika kata yang berlebihan itu dihilangkan artinya tetap utuh
2. Penulisan yang tidak konsisten
Hal ini terlihat dalam penulisan tokoh utama. Di halaman ix dalam Sekapur Sirih, penulis memperkenalkan ejaan yang benar yaitu Letkol. Mochammad Sroedji. Namun pada halaman 60 dan 153 disebutkan sebagai Mochamad Sroedji.
Penulisan kata musala (halaman 1 dan 243) kadang ditulis mushala (halaman 246 dan sampul belakang). Kalau menurut KBBI online yang dikenal adalah kata musala.
Penulisan nama pendiri Hizbul Wathan yang juga pendiri Perkumpulan Muhammadiyah, ditulis KH. Ahmad Dachlan (halaman 45) dan KH. Achmad Dahlan (halaman 226) padahal sepengetahuan saya yang benar adalah KH. Ahmad Dahlan.
Halaman 44, 45 dan 46 Supardi salah satu teman Sroedji membawa koran Djawa Baroe tapi pada halaman 47 saat Rukmini berkomentar, koran tersebut berubah menjadi majalah Djawa Baroe. (Berdasarkan hasil googling Djawa Baroe adalah nama sebuah majalah jaman pendudukan Jepang).
Pada halaman 81 Mayor Sroedji bersama pasukan Batalion Alap-Alap berencana melancarkan serangan balasan terhadap konvoi Belanda yang akan menyeberangi kali Brantas. Namun pada kalimat berikutnya disebutkan ...siap diledakkannya bom itu setiap saat jika posisi tank-tank Inggris tepat benar di tengah jembatan. Jika mencermati kejadian dan ceritanya yang benar adalah Inggris.
Halaman 174 pada paragraf pertama, kalimat awal menyebutkan langit Malang cerah... Namun kalimat akhir pada paragraf yang sama disebutkan Jember yang masih dilingkupi musim penghujan terasa sejuk.   
3. Penulisan Bahasa Jawa
Jujur saya bukan seorang ahli Bahasa Jawa. Namun sebagai seorang yang membaca majalah bahasa Jawa sejak SD, saya agak terganggu dengan penulisan beberapa kata-kata bahasa Jawa yang ada dalam novel ini.
mocopat seharusnya macapat (halaman 23, macapat sudah masuk dalam KBBI), ngadi saliro ngadi busono seharusnya ngadi salira ngadi busana (halaman 24), opo seharusnya apa (halaman 141). Ojo seharusnya aja (halaman 192). Wong tuwo seharusnya wong tuwa (halaman 192). Kudhu seharusnya kudu (halaman 79). Dhadhi seharusnya dadi (halaman 141). Juga beberapa kata dalam bahasa Jawa lain.
4. Penulisan dan pemenggalan kalimat
Pemenggalan kata Rukmini di halaman 26. Kata Rukmini diputus dengan Ru-kmini sedangkan baris kalimat berikutnya dipenggal dengan Ruk-mini.
Kalimat hal 28 Maryamhanyalahperempuanbiasa... spasi kalimatnya terlalu dekat sehingga seakan-akan kalimat tersebut bersambung. hal ini juga terlihat pada beberapa kalimat di halaman lain (39,71). Mungkin ini pengaruh komputer yang secara otomatis mengatur spasi.
5. Penulisan kata
Penulisan kata tatakrama dan tatatertib yang disambung seharusnya tata krama dan tata tertib (halaman 23).
6. Logika jarak antar kota
Saat pengungsian Rukmini dan keluarga keluar dari Jember menuju Kediri ada yang agak mengganjal. Berkali-kali saya lihat peta Jawa Timur. Jarak antara Jember ke Kediri lebih dekat dibandingkan Jember ke Madiun. Namun dalam novel ini anak-anak dan keluarga Rukmini ditinggal di Madiun dan Rukmini melanjutkan perjalanan ke Kediri. Apa tidak terbalik? Atau ada alasan lain dengan rute yang lebih jauh yaitu memutar? Atau yang dimaksud Madiun itu Malang? Mengingat jika perjalanan dari Jember ke Kediri akan melewati Malang terlebih dahulu.
Terlepas dari beberapa kekurangan Novel Sang Patriot ini adalah novel sejarah yang luar biasa dan layak mendapat apresiasi yang setinggi-tingginya.

Di antara sedikitnya novel sejarah, kehadiran Novel Sang Patriot ini bak hujan yang turun dari langit. Menyiram, membasahi dan menumbuhkan berjuta harap menjadi pioner tumbuh suburnya novel-novel sejarah yang lainnya. 

Sekalipun novel ini adalah novel sejarah pertama yang ditulis Irma Devita, ia sukses membuka dan menyemai kembali benih novel sejarah di Indonesia ini. Berhasil membingkai kepingan sejarah dalam sebuah novel. Alangkah indahnya dan menariknya jika generasi muda bisa belajar sejarah melalui kisah-kisah menarik dalam novel.

Meminjam kalimat mas RZ Hakim yang bikin mak jleb "bukankah masa kini itu dibangun dari puing-puing masa lalu".
 Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot