Senin, 12 Mei 2014

MEMBINGKAI SEJARAH DALAM SEBUAH NOVEL

Sumber : Dok. pribadi

Judul buku : Sang Patriot : Sebuah Epos Kepahlawanan
Penulis : Irma Devita
Penyunting : Agus Hadiyono
Desain sampul : WinduUKMJem
Penerbit : Inti Dinamika Publishers
Tempat terbit : Jakarta
Tahun terbit : 2014
Cetakan : Pertama, Pebruari 2014
Ukuran : 13 x 20,5 x 1,8 cm
Jumlah halaman : xii + 268 (280h)
ISBN : 978-602-14969-0-9 
Harga : Rp 55.250,- (Toga Mas Surabaya 12 Mei 2014)
Kategori : Novel Sejarah


"Sesosok jasad terbujur kaku di meja yang sengaja diletakkan di pelataran musala. Terbaring dalam hening. Tampak agung walau tersungkur bergenang darah mengering dari luka menganga di wajah bola matanya raib tercerabut dari tempatnya... Tubuh berperawakan sedang namun berisi itu menjadi saksi bisu kekejaman tangan-tangan yang pernah mendera, penuh lubang peluru dan cabikan bayonet. Tulang kepala berambut ikalnya retak, terdera popor senapan. Satu... dua... tiga... jari-jari tangan sang jasad tak lagi lengkap, hilang sebagian...
Prolog yang mengerikan ini tercantum di sampul belakang novel Sang Patriot (sebagai blurb). Kengerian penggambaran jenasah sang patriot menjadi daya tarik pembaca untuk ingin tahu lebih jauh cerita sang tokoh. Rasa penasaran pembaca sebenarnya sudah terpancing sejak pertama kali melihat tampilan fisik novel ini. Betapa tidak? Desain sampul yang bagus dengan dominasi warna merah, tulisan judul warna emas dan sosok pejuang dengan pose membelakangi akan memikat siapapun yang melihatnya. 

Pemilihan warna merah karena melambangkan keberanian dan emas melambangkan kemenangan. Karena sesungguhnya keberanian untuk berjuang membela kebenaran dan cita-cita adalah kemenangan tersendiri bagi sang pejuang dan perang terbesar adalah melawan diri sendiri.

Rasa keingintahuan pembaca diperkuat lantaran sang penulis tidak menyebutkan siapa sebenarnya Sang patriot ini dalam desain sampulnya. Suatu teknik yang mengesankan untuk memancing rasa penasaran. 

Sumber disini
Novel Sang patriot ini terdiri dari 25 bab. Seperti saya sebutkan di atas dibuka dengan prolog yang mengerikan. Walaupun sebenarnya ada foto dokumentasi dari prolog tersebut namun disimpan oleh penulis dan diletakkan di bab 24. Hal ini dimaksudkan untuk memancing pembaca masuk labirin imajinasinya. Teknik menjaga imajinasi pembaca adalah penting agar pembaca bisa terperangkap dalam lingkaran imajinasinya sehingga akan tenggelam untuk terus membaca novel sampai tuntas.

Adalah Mochammad Sroedji yang menjadi tokoh sentral dalam novel ini. Namanya sendiri baru disebutkan pada halaman 6 bab ke-2. Jiwa nasionalisme Sroedji sudah terpupuk sejak kecil. Hal ini tampak saat ia bermain perang-perangan dengan teman-temannya di antara rumpun bambu.
"Dor! Dor! Kena...! Mati kamu Belanda...!" (halaman 5)
Semangat nasionalisme ini diperolehnya dari Kyai Dullah yang diam-diam juga tokoh perjuangan. Kyai Dullah menginginkan rakyat Indonesia merdeka. Melalui cerita dan kisah heroik, ia menanamkan rasa cinta tanah air kepada para santrinya. Termasuk Sroedji dan teman-temannya.

Sroedji adalah seorang anak yang cerdas dan berkemauan keras untuk sekolah. Ia adalah anak ke-2 dari pasangan Hasan dan Amni yang lahir di Bangkalan tanggal 1 Februari 1915. Kehidupanlah yang membawa Hasan, seorang pedagang keliling, bertemu dengan Amni dan pindah serta menetap di Kauman Gurah Kediri. 

Berkat bantuan Pakdenya dan kecerdasan yang dimiliki Sroedji sehingga lolos tes dan diterima di HIS. Kemauan keras Sroedji pula yang menghantarkannya sekolah lebih tinggi setamat dari HIS (1930) ke Ambactsleergang atau sekolah teknik di Malang, meskipun harus mengorbankan kesempatan naik haji.

Di kota Malang inilah Sroedji bertemu kekasih hatinya, Rukmini. Seorang wanita cerdas yang berhati keras namun hormat kepada orang tua. Ada kisah roman yang menghiasi novel sejarah ini. Pembaca akan dibuat tersipu-sipu saat membaca bab ke-4: Jatuh Cinta. Adegan saat Sroedji 'menonton' calon istri di pasar Malang. Saat pandangan keduanya berserobok untuk pertama kalinya. Apalagi saat mereka beradu pandang untuk ke-2 kalinya mata nakal Sroedji yang mengedip sebelah membuat Rukmini terjingkat oleh degupan lembut. Bahkan pertemuan singkat itu mampu menghiasi mimpi-mimpi dan lamunan Rukmini sampai di hari pernikahannya tanggal 28 September 1939. 

Pernikahan karena perjodohan yang semula ditentang Rukmini yang akhirnya diterima dengan berbagai syarat. Pandai berbahasa Belanda dan mengijinkan Rukmini tetap bersekolah demi mencapai cita-citanya menjadi Meester in de Rechten. Kegundahan hati Rukmini berakhir dengan bahagia karena ternyata suaminya adalah pria yang mengedipkan mata nakalnya di pasar Malang. Hati Rukmini sungguh dipenuhi selaksa kebahagiaan. Debar lembut menyeruak tanpa ampun dari relung hatinya.

Keromantisan Sroedji dan sikapnya yang manis serta suka memuji dengan kata-kata yang menyejukkan membuat kebahagiaan Rukmini semakin membuncah. Mereka tinggal di Jember dan Sroedji bekerja sebagai Mantri Malaria di Rumah Sakit Umum Kreongan. Namun kepindahan ke Jember ini membuat Rukmini mengubur mimpinya menjadi Meester in de Rechten, karena di Jember belum ada sekolah tinggi hukum.

Jiwa nasionalisme Sroedji terlihat saat melarang  Rukmini berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Bahkan mewanti-wanti agar anak-anak yang lahir kelak tidak diajari bahasa Belanda sebagai bahasa sehari-hari namun menggunakan bahasa Jawa (bukan juga bahasa Madura). Hal ini cukup kontradiksi. Namun Rukmini sadar sang suami adalah seorang nasionalis tulen. Yang memiliki cita-cita terhadap kemerdekaan negara yang bernama Indonesia.

Impian Sroedji tentang kemerdekaan Indonesia telah dipupuk jauh sebelum menikah. Ia mengikuti kepanduan Hizbul Wathan sebuah gerakan kepanduan nasionalis di bawah naungan Muhammadiyah yang dicetuskan K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta.

Adanya Osamu Seirei (Dekrit) Nomor 44 Tahun 1943 tentang pembentukan Pembela Tanah Air (PETA) membuka kesempatan bagi Sroedji untuk mengobarkan jiwa patriotnya. Setelah mengantongi ijin istrinya melalui diskusi mereka. Rukmini sangat mendukung cita-cita suaminya menjadi pembela tanah air. Dengan ikhlas dan doa atas nama Allah ia melepas suaminya. Keikhlasan dan pengorbanan seorang istri yang luar biasa.

Tekad yang kuat, jiwa patriot dan nasionalis yang dimiliki Sroedji, membuatnya tegar di tengah beratnya masa pelatihan di PETA. Tekanan fisik dan psikis di kawah candradimuka-nya PETA tidak membuatnya surut. Bahkan Sroedji menjadi motivator bagi teman-temannya sesama kadet. Jiwa kepemimpinan Sroedji sangat kentara di sini.
"Perang terbesar bukanlah melawan musuh, Mur. Perang paling besar adalah perang melawan diri kita sendiri. Kita harus punya satu tekad baja. Kita harus kalahkan dulu diri kita, baru bisa mengalahkan musuh."
"Kita harus menjadi perwira yang tangguh, Mur ... harus! Demi bangsa kita, Mur ... anak cucu kita. Mereka tidak boleh mengalami masa kegelapan seperti yang kita alami, Mur."
"Kita adalah prajurit Mur, ... kita tidak boleh kehilangan semangat juang. Seorang prajurit yang kehilangan semangat juang ibarat mayat yang sedang mengusung keranda kematiannya sendiri."
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, PETA secara resmi dibubarkan. Pada tanggal 19 Agustus 1945 Nagano Yuichiroo panglima terakhir tentara ke-16 Jepang membubarkan PETA. Bung Karno segera menyerukan pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat). Mochammad Sroedji berpangkat mayor dan masuk dalam Resimen II Jember.

Tanggal 5 Oktober 1945 BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Sroedji menjabat Komandan Batalion Sroedji Resimen IV/TKR Divisi VII Untung Suropati.

Patriotisme Sroedji terlihat jelas saat peristiwa Pertempuran Surabaya. Seruan tegas Sroedji atas nama TKR Jember untuk mendukung rakyat Surabaya mempertahankan kota. Tak ada keraguan tebersit. Hanya satu tekad, berjuang sampai titik darah penghabisan. Merdeka atau mati! Sroedji mengkomandani sektor sayap tengah untuk memperkuat pertahanan Surabaya Selatan.

Sroedji memimpin Brigade Damarwulan yang membawahi Karesiden Besuki yang meliputi daerah Jember, Lumajang, Blitar, Kediri sampai Banyuwangi. Agresi Militer Belanda I pada bulan Juli 1947 membuat Sroedji dan pasukannya harus bergerilya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Para pemimpin perjuangan telah bersepakat mengobarkan perang gerilya dan melakukan perlawanan tanpa henti. Perlawanan para gerilwayan tersebut terbukti membuat kewalahan Belanda. Keluarga Sroedji menjadi incaran Belanda untuk melemahkan perjuangan Sroedji dan pasukannya. Sroedji memerintahkan anak buahnya membawa keluarganya keluar dari Jember menuju Kediri. Padahal saat itu Rukmini sedang hamil tua anak ke-4. Karena Belanda menguasai kota maka mereka harus mengambil jalan memutar dan menempuh jarak 200 km.

Baru seminggu berkumpul dengan suami di Kediri, panggilan tugas membuat Sroedji harus meninggalkan keluarganya, meninggalkan istrinya yang sebentar lagi melahirkan. Perjanjian Renville yang mengharuskan Sroedji memimpin pasukannya mengosongkan wilayah garis Van Mook. Meninggalkan wilayah-wilayah gerilya yang strategis.

Kelicikan Belanda melanggar Perjanjian Renville dengan melancarkan Agresi Militer II. Hal ini memaksa Panglima Besar memerintahkan semua pasukan Indonesia kembali menyusup ke kantong gerilya dengan siasat Wingate Action. Sroedji harus memimpin pasukannya kembali ke Besuki untuk mempertahankan daerah yang sebelumnya ditinggalkan. Perjalanan berat dan melelahkan dilalui oleh serombongan besar yang terdiri prajurit, kaum wanita dan anak-anak. Berbagai peristiwa terjadi baik pengkhinatan, hempasan lahar dingin dan kelaparan. Mereka harus berputar menyusuri lereng gunung demi menghindari sergapan Belanda.

Demi memadamkan perlawanan Letkol Mochammad Sroedji dan Brigade Damarwulan, Belanda melancarkan politik devide et impera. Caranya dengan menyebarkan pamflet Sroedji sebagai buron atau target seharga 10.000 Gulden baik kondisi hidup atau mati.

Pertempuran demi pertempuran berlangsung sengit dan heroik dengan target utama Jember. Pertempuran paling hebat terjadi di Tempursari dan Penanggal Lumajang Selatan. 

Seorang pengkhianat yang berhasil menyusup dan menyamar masuk dalam Brigade Sroedji. Somad seorang Indo Belanda berkulit hitam layaknya pribumi berhasil memperdaya Brigade Sroedji. Kesetiaan mengabdi kepada Kerajaan Belanda dan sumpah yang lahir dari dendam kesumat terhadap pasukan Sroedji yang telah mengalahkan pasukannya adalah motivasinya. 

Kondisi fisik Sroedji yang sedang sakit demam, kelelahan pasukannya serta kalah jumlah karena pasukannya sudah berpencar diketahui oleh mata-mata penyusup Belanda (Somad). Sehingga Belanda mengepung dengan kekuatan besar.

Kematian syahid dr. Soebandi karibnya di sampingnya, sekilas mengingatkan kematian Karjo teman masa kecilnya. Bedanya kali ini ia membela dan membalaskan kematian sahabat karibnya meski nyawa taruhannya.
"Ya Allah, mungkin ini sudah waktuku... Biarlah darahku menjadi pupuk penyubur tanah tumpah darah ini..."
Letkol Mochammad Sroedji gugur dalam perang di Karang Kedawung 8 Februari 1949 sebagai syuhada.

Nasionalisme, Jiwa Patriot dan Pemimpin

Novel Sang patriot ini memberikan jawaban apakah pemimpin itu dilahirkan atau dibentuk. Penulis tidak secara jelas menceritakan apakah ada keturunan pemimpin di keluarga Sroedji sehingga kita tidak bisa menyimpulkan kepemimpinan Sroedji itu dilahirkan (secara genetik). Lebih mengarah bahwa seorang pemimpin itu dibentuk. 

Rasa kepemimpinan Sroedji yang tumbuh bersama jiwa nasionalisme dan patriotnya. Didikan keluarga Madura yang memegang teguh agama dan kisah-kisah heroik yang diceritakan Kyai Dullah di pesantren memberikan bibit yang nantinya tumbuh semakin besar. Kepanduan Hizbul Wathan juga memberikan andil memupuk jiwa nasionalis, patriot dan kepemimpinan Sroedji. Luka dalam hati akibat kematian karibnya semasa kecil oleh sinyo-sinyo Belanda menimbulkan semangat mengusir penjajah dari tanah airnya. Dukungan keluarga (istri dan anak-anak) yang luar biasa membuat Sroedji menjadi seorang patriot yang kuat. Rakyat yang menderita dan pasukan setianya semakin mengobarkan jiwa patriotismenya.

Sumber disini
Cinta

Sebenarnya kalau dirangkum dengan satu kata, novel Sang Patriot karya Irma Devita ini adalah CINTA.

Cinta kepada tanah air yang menggerakkan Sroedji berkorban untuk bangsa dan tanah airnya. 

Cinta kepada anak dan cucunya kelak untuk hidup dalam alam kemerdekaan yang memberikan suntikan semangat untuk memperjuangkan cita-citanya mempertahankan kemerdekaan.

Cinta kepada suami dan bangsanya Rukmini merelakan suami tercinta berjuang demi bangsanya, merelakan mengubur cita-citanya untuk menjadi Meester in de Rechten,  membesarkan anak-anaknya seorang diri, menderita dalam perjuangan.

Cinta kepada bangsanya membuat para pejuang kemerdekaan Indonesia memberikan harta, raga dan jiwanya menjadi pupuk kemerdekaan Indonesia.

Cinta dan janji kepada sang nenek, membuat Irma Devita melahirkan Novel Sejarah Sang Patriot yang apik dan heroik ini untuk kita.
dan masih banyak cinta yang lain...

Cinta, senyawa kimiawi yang abstrak dalam tubuh kita yang menggerakkan kita menjadi seorang Patriot dalam kehidupan kita.

Ide Cerita

Berdasarkan cover depan yang tertulis based on true story dan yang tertulis di sekapur sirih sangat jelas darimana ide cerita novel ini berasal. Kisah nyata sang kakek dan janji Irma Devita saat kecil kepada sang nenek adalah ide utama cerita novel Sang Patriot ini.
"Mbah... Irma janji, suatu saat kelak Irma akan menuliskan cerita tentang Mbah Kakung..."
Kelebihan

Membaca novel Sang Patriot ini kita akan dibawa kedalam cerita epik yang mengharu biru, membikin jantung kebat-kebit saat peristiwa-peristiwa genting. Meluruhkan dan melelehkan air mata kita saat hati kita tersentuh keharuan dan kesedihan. Kegeraman dan amarah dalam hati saat membaca kelicikan Belanda dan para pengkhianat. Tersenyum simpul dan malu-malu saat tokoh dalam novel ini jatuh cinta. 

Plot yang maju-mundur dibolak-balik berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca novel ini. Saat kita dicekam oleh cerita yang hampir klimaks tiba-tiba penulis menceritakan kisah lain. Hal ini yang sanggup membuat pembaca betah untuk meneruskan membaca novel ini karena rasa penasaran yang ada.

Irma Devita menyuguhkan gaya bahasa yang menyenangkan dan indah, sehingga betah berjam-jam membaca novel ini (tidak seperti saat saya membaca diktat kedokteran. Saya kemudian berpikir andaikan diktat kedokteran dibuat novel, bagaimana ya jadinya?). Rasa penasaran yang terus dibangun sejak awal dipertahankan sampai akhir. Penokohan yang kuat membuat pembaca terhanyut dan merasakan sifat-sifat tokoh yang ada.

Novel yang didasarkan akan kisah nyata sang kakek ini juga didukung melalui riset yang cukup panjang. Latar belakang pendidikan sebagai praktisi hukum menolong Irma Devita menyajikan fakta yang aktual dari sejarah yang ada. Catatan waktu, peristiwa, lokasi dan tokoh tersusun rapi berdasarkan fakta yang diperoleh saat riset.  

Hal Mengganjal

Berikut beberapa hal yang mengganjal dalam Novel Sang Patriot :

1. Judul
Judul novel ini adalah Sang Patriot : Sebuah Epos Kepahlawanan. Yang saya sorotin adalah sub judulnya : Sebuah Epos Kepahlawanan. Yang cukup membuat saya cukup terganggu adalah kata epos kepahlawanan.
Kalau menurut KBBI online epos adalah cerita kepahlawanan; syair panjang yang menceritakan riwayat perjuangan seorang pahlawan; wiracarita. Jadi kalau dipanjangkan menjadi sebuah cerita kepahlawan kepahlawanan. Sehingga judulnya akan lebih pas jika Sang Patriot : Sebuah Epos.
Namun saya berpikir, mungkinkah Irma Devita menggunakan gaya bahasa Pleonasme? Gaya bahasa pleonasme adalah gaya bahasa yang memakai kata-kata yang lebih dari yang diperlukan, dan jika kata yang berlebihan itu dihilangkan artinya tetap utuh
2. Penulisan yang tidak konsisten
Hal ini terlihat dalam penulisan tokoh utama. Di halaman ix dalam Sekapur Sirih, penulis memperkenalkan ejaan yang benar yaitu Letkol. Mochammad Sroedji. Namun pada halaman 60 dan 153 disebutkan sebagai Mochamad Sroedji.
Penulisan kata musala (halaman 1 dan 243) kadang ditulis mushala (halaman 246 dan sampul belakang). Kalau menurut KBBI online yang dikenal adalah kata musala.
Penulisan nama pendiri Hizbul Wathan yang juga pendiri Perkumpulan Muhammadiyah, ditulis KH. Ahmad Dachlan (halaman 45) dan KH. Achmad Dahlan (halaman 226) padahal sepengetahuan saya yang benar adalah KH. Ahmad Dahlan.
Halaman 44, 45 dan 46 Supardi salah satu teman Sroedji membawa koran Djawa Baroe tapi pada halaman 47 saat Rukmini berkomentar, koran tersebut berubah menjadi majalah Djawa Baroe. (Berdasarkan hasil googling Djawa Baroe adalah nama sebuah majalah jaman pendudukan Jepang).
Pada halaman 81 Mayor Sroedji bersama pasukan Batalion Alap-Alap berencana melancarkan serangan balasan terhadap konvoi Belanda yang akan menyeberangi kali Brantas. Namun pada kalimat berikutnya disebutkan ...siap diledakkannya bom itu setiap saat jika posisi tank-tank Inggris tepat benar di tengah jembatan. Jika mencermati kejadian dan ceritanya yang benar adalah Inggris.
Halaman 174 pada paragraf pertama, kalimat awal menyebutkan langit Malang cerah... Namun kalimat akhir pada paragraf yang sama disebutkan Jember yang masih dilingkupi musim penghujan terasa sejuk.   
3. Penulisan Bahasa Jawa
Jujur saya bukan seorang ahli Bahasa Jawa. Namun sebagai seorang yang membaca majalah bahasa Jawa sejak SD, saya agak terganggu dengan penulisan beberapa kata-kata bahasa Jawa yang ada dalam novel ini.
mocopat seharusnya macapat (halaman 23, macapat sudah masuk dalam KBBI), ngadi saliro ngadi busono seharusnya ngadi salira ngadi busana (halaman 24), opo seharusnya apa (halaman 141). Ojo seharusnya aja (halaman 192). Wong tuwo seharusnya wong tuwa (halaman 192). Kudhu seharusnya kudu (halaman 79). Dhadhi seharusnya dadi (halaman 141). Juga beberapa kata dalam bahasa Jawa lain.
4. Penulisan dan pemenggalan kalimat
Pemenggalan kata Rukmini di halaman 26. Kata Rukmini diputus dengan Ru-kmini sedangkan baris kalimat berikutnya dipenggal dengan Ruk-mini.
Kalimat hal 28 Maryamhanyalahperempuanbiasa... spasi kalimatnya terlalu dekat sehingga seakan-akan kalimat tersebut bersambung. hal ini juga terlihat pada beberapa kalimat di halaman lain (39,71). Mungkin ini pengaruh komputer yang secara otomatis mengatur spasi.
5. Penulisan kata
Penulisan kata tatakrama dan tatatertib yang disambung seharusnya tata krama dan tata tertib (halaman 23).
6. Logika jarak antar kota
Saat pengungsian Rukmini dan keluarga keluar dari Jember menuju Kediri ada yang agak mengganjal. Berkali-kali saya lihat peta Jawa Timur. Jarak antara Jember ke Kediri lebih dekat dibandingkan Jember ke Madiun. Namun dalam novel ini anak-anak dan keluarga Rukmini ditinggal di Madiun dan Rukmini melanjutkan perjalanan ke Kediri. Apa tidak terbalik? Atau ada alasan lain dengan rute yang lebih jauh yaitu memutar? Atau yang dimaksud Madiun itu Malang? Mengingat jika perjalanan dari Jember ke Kediri akan melewati Malang terlebih dahulu.
Terlepas dari beberapa kekurangan Novel Sang Patriot ini adalah novel sejarah yang luar biasa dan layak mendapat apresiasi yang setinggi-tingginya.

Di antara sedikitnya novel sejarah, kehadiran Novel Sang Patriot ini bak hujan yang turun dari langit. Menyiram, membasahi dan menumbuhkan berjuta harap menjadi pioner tumbuh suburnya novel-novel sejarah yang lainnya. 

Sekalipun novel ini adalah novel sejarah pertama yang ditulis Irma Devita, ia sukses membuka dan menyemai kembali benih novel sejarah di Indonesia ini. Berhasil membingkai kepingan sejarah dalam sebuah novel. Alangkah indahnya dan menariknya jika generasi muda bisa belajar sejarah melalui kisah-kisah menarik dalam novel.

Meminjam kalimat mas RZ Hakim yang bikin mak jleb "bukankah masa kini itu dibangun dari puing-puing masa lalu".
 Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot

8 komentar:

  1. lengkap reviewnya...semangat cinta tanah airnya patutu ditiru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak. Kita harus kobarkan jiwa patriot dalam diri kita masing2
      Terima kasih sudah mampir
      Salam

      Hapus
  2. btw, harga bukunya berapa nih? gut lak y

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harga di Toko Buku Toga Mas Surabaya sampai tanggal 12 Mei 2104 kemarin Rp 65.000,- tapi mendapat discount 15% sehingga harganya menjadi Rp 55.250,-

      Hapus
  3. bener banget, novel ini bakar semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak novel ini kereennnn buanget...
      Suka.
      terima kasih sudah mampir
      Salam

      Hapus
  4. Terima kasih atas partisipasinya ya Mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mas. Novel ini layak untuk dibaca generasi muda. Sukses untuk Novel Sang Patriot

      Hapus